, , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

strategi pengembangan produk fashion

les, indonesia, private, obras, guru, sekolah, belajar, yogyakarta, usaha, jogja, kursus, terbaik, batik, kaos, kebaya, jahit, baju jahit, mesin jahit, konveksi, kursus menjahit
strategi pengembangan produk fashion

strategi pengembangan produk fashion



Untuk mengembangkan berbagai aspek tersebut diatas diperlukan kolaborasi beberapa
pihak terkait agar dihasilkan harga yang kompetitif, efisiensi produksi dan delivery order yang
tepat dan cepat. Oleh karena itu, dalam rangka pengembangan produk fashion agar tercipta fashion
image di pasar domestik dan internasional perlu dilakukan beberapa strategi sebagai berikut:
1). Pengembangan disain
Bagi perancang asing, Indonesia merupakan pustaka untuk koleksi bernuansa etnik..
Mereka kembangkan menjadi sumber daya ekonomi yang sangat signifikan (Jamaludin,2002). Oleh
karena itu pengembangan disain dapat dilakukan dengan mengangkat kekayaan ragam budaya
Indonesia dari sabang sampai merauke. Dimana setiap budaya memiliki tekstil tradisional yang
memiliki motif motif yang sangat unik dan etnik. Jika motif motif tradisional ini mampu diangkat
di pasar modern melalui pengembangan motif dengan diberi sentuhan gaya modern tanpa harus
menghilangkan makna filosofi yang menyertainya. Desain tradisional dapat difungsikan sebagai
bahan modifikasi, bahan inovasi dan bahan inspirasi dari desain modern. Dalam perancangan
desain ini juga dapat menggambil dari berbagai sumber ide seiring berkembangnya teknologi
informasi.
2). Updating teknologi
Selain pengembangan disain, yang sangat diperlukan adalah dukungan teknologi untuk
mewujudkan disain-disain yang indah menjadi produk fashion yang berkualitas. Salah satu
permasalahan industri tekstil adalah mesin mesin industrinya sebagian besar adalah mesin mesin
lama yang umurnya lebih dari 15 tahun. Perkembangan teknologi garmen saat ini sudah sangat
pesat , mesin mesin modern yang sudah serba komputeris dengan sistem otomasi dan otonomasi
sangat diperlukan agar meningkatkan produktivitas dan mampu menghasilkan produk tekstil
dengan kualitas yang tinggi. Hal ini berarti perlu segera restrukturisasi mesin.
3). Pengembangan SDM
Untuk menghasilkan produk yang berkualitas tentulah tidak lepas dari dukungan SDM
dibidang tekstil. SDMnya harus memiliki produktivitas dan kreativitas yang tinggi sehingga
mampu menghasilkan inovasi- inovasi produk tekstil. Perlunya dukungan SDM ini tentu lembaga
pendidikan harus berperan dengan baik dari tingkat dasar, menengah hingga pendidikan tinggi
terutama di bidang tekstil. Saat ini telah cukup banyak berkembang pendidikan tekstil baik
ditingkat menengah seperti SMK tekstil di Pekalongan,Yogyakarta, Kendal dan Klaten. Demikian
juga di tingkat pendidikan tinggi telah ada pendidikan tinggi tekstil seperti di Bandung, Jakarta,
Surabaya, Solo dan Yogyakarta. Didukung banyaknya sekolah sekolah mode dan pendidikan tata
busana di universitas eks IKIP. Outpout dari lembaga lembaga pendidikan ini sangat diharapkan
untuk mampu menjawab tantangan pasar global pertekstilan dunia. Dari SDM ini diharapkan
tercipta material tekstil yang berkualitas, halus, high function serta produk fashion yang indah
sehingga memberikan nilai tambah pada produk fashion.
4). Inovasi produk fashion dengan penerapan teknologi
Seiring perkembangan Ipteks fungsi busana tidak hanya sekedar untuk penampilan saja.
Berbagai produk fashion yang high function di berbagai bidang kehidupan dengan berbagai nilai
tambah dari aspek material teknologi, design perlu dikembangkan. Misalnya Di bidang militer kita
kenal adanya rompi anti peluru, dibidang olahraga kita juga mengenal pakaian balap yang mampu
melindungi tubuh si pembalap walaupun terjatuh dalam kecepatan tinggi namun tidak lecet
sedikitpun, di cabang renang pada Olympiade Sydney beberapa tahun diperkenalkan pakaian

renang berbahan serat lycra dan campurannya yang memiliki daya luncur yang bagus di atas air
sehingga mampu mendongkrak kecepatan renang si pemakai. Kalau anda menyaksikan tayangan
tayangan “TV Media” kita bisa mendapatkan pakaian yang mampu memperindah bentuk bagianbagian
tubuh tertentu. Hal ini tentu perlu didukung SDM dan industri serat, benang dan kain
untuk mampu menghasilkan bahan-bahan tekstil yang berkualitas dan bernilai guna tinggi serta
memiliki nilai tambah fungsi di berbagai bidang kehidupan.
5). Political Will
Memasuki pasar global tentulah produk yang dikembangkan harus memiliki daya saing
yang tinggi. Bicara daya saing tentu harus bicara kualitas. Kualitas tentulah mempengaruhi harga.
Penentuan harga tidak lepas dari biaya produksi. Komponen produksi tentulah terkait dengan
banyak hal seperti pajak, tenaga kerja, bahan baku,dan sebagainya. Komponen - komponen
produksi terkait dengan kebijakan ekonomi secara makro maupun mikro dari pemerintah termasuk
stabilitas politik. Oleh karena itu pemerintah harus turut berperan dalam menciptakan stabilitas
POLEKSOSBUDHANKAM di negara ini untuk iklim usaha yang kondusif. Beberapa perusahaan
telah memindahkan kegiatan produksi ke negara tetangga seperti ke Malaysia dan Vietnam karena
negara- negara tersebut mampu memberikan iklim usaha yang baik. Untuk itu pemerintah perlu
melakukan langkah - langkah strategis dimasa krisis yang tidak kunjung berakhir ini untuk
mengembangkan sektor tekstil melalui kebijakan kebijakan yang menyegarkan iklim usaha tekstil
seperti penurunan suku bunga, penurunan pajak impor kapas, stabilitas harga BBM untuk industri ,
stabilitas hankam dan sebagainya.
6). Membangun brand image
Upaya-upaya pencitraan image produk fashion Indonesia di dalam negeri maupun dunia
internasional harus segera dibangun jika produk TPT kita tidak ingin terlindas oleh serbuan produk
dari luar negeri. Kita perlu mengembangkan produk dengan merk dalam negeri. Hal ini perlu
segera dibangun kerjasama sinergis para perancang dengan industri garmen untuk dapat melakukan
penetrasi pasar . Dengan pengalaman memproduksi produk luar dapat kita jadikan acuan untuk
membangun brand dalam negeri dalam menembus pasar global. Untuk membuat produk TPT agar
mampu mencapai “Superbrand” dibutuhkan proses (waktu) serta inovasi terus menerus. Oleh
karena itu jalinan kemitraan beberapa pihak yang terkait dengan industri TPT harus saling
bekerjasama secara terus menerus hingga mampu memenuhi kriteria superbrand yaitu mampu
mendominasi pasar, mendapatkan kepercayaan pelanggan, memiliki pelanggan yang setia, mampu
bertahan sepanjang waktu, serta diterima di hati pelanggan.
7). Mengikuti, meramalkan dan menciptakan trend mode
Bahan tekstil sebagian besar difungsikan sebagai bahan sandang (pakaian). Berbicara
pakaian tentu bicara mode. Mode para desainer (praktisi mode) adalah pakarnya. Oleh karena itu
para praktisi mode harus mampu mengangkat tekstil Indonesia melalui karya karya busana yang
indah mempesona sehingga laku dipasar internasional. Di samping itu para praktisi mode
Indonesia diharapkan memberikan masukan melalui ide ide kreatifnya dan mampu membaca trend
mode yang memiliki visibilitas pasar dimata para pelaku industri sehingga para pelaku industri
tekstil memproduksi bahan-bahan tekstil sesuai dengan kualitas yang diharapkan oleh para
perancang sehingga produk fashion Indonesia mampu menembus pasar dunia.

perancang sehingga produk fashion Indonesia mampu menembus pasar dunia.
8). Promosi t erus menerus
Untuk dapat laku sebuah produk harus dikenal dimasyarskat dan untuk dikenal tentu
harus dipromosikan. Media promosi yang sangat efektif adalah melalui media cetak dan
elektronik. Demikian juga dalam pengembangan produk fashion peran serta media cetak dan
elektronik sangat diperlukan dalam memasarkan produk tekstil dalam negeri minimal untuk pangsa
pasar domestik yang cukup potensial dimana Indonesia termasuk negara berpenduduk terbesar
didunia. Selain itu penyebaran produk ke luar negeri juga sangat diperlukan sehingga masyarakat
internasional mengenal aneka produk fashion Indonesia. Disamping itu pemasaran melalui
masyarakat Indonesia yang bermukim diluar negeri juga dapat sangat efektif dalam mengenalkan
produk Indonesia. Promosi ini juga dapat dilakukan secara bersama dengan berbagai produk
lainnya dalam kompas 29 Februari 2004 diberitakan berbagai peluncuran produk yang
dibarengi/dikaitkan dengan fashion seperti Supermi, HP Siemen, Mercedez Benz, apartemen
Belezza dan Sabun Lux. Artinya dari gejala promosi ini maka kalangan industri tekstil dan

perancang mode dapat mempromosikan produk tekstil/rancangan busananya bersama misi-misi
dagang produk Indonesia lainnya yang bisa dikemas jadi satu sehingga efektif dan efisien.
4. Penutup
Dalam era persaingan ini dan menyongsong tantangan ke depan, industri garmen Indonesia
dituntut untuk mampu bersaing baik pada produk low end (busana sehari hari) maupun high fashion
(busana indah dan busan untuk fungsi khusus). Untuk itu memasuki era high fashion dan high
value added perlu sinergi yang baik melalui pola kemitraan antara industri, pemerintah, lembaga
pendidikan dan para praktisi mode serta media cetak dan elektronik dalam mengembangkan produk
fashion. Melalui pengembangan produk fashion yang inovatif dan berkualitas maka Industri tekstil
kita akan tetap eksis di pasar global dan tetap menjadi primadona ekspor nonmigas. Melalui sinergi
kerjasama anatara pemerintah, industri, lembaga pendidikan dan desainer serta media dalam
menciptakan fashion image akan membawa industri tekstil kembali bersinar di pasar global dan
industri tekstil tidak menjadi sunset industri dimasa mendatang seperti yang dikhawatirkan selama
ini.

0 komentar:

Post a Comment