, , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Smok

les, indonesia, private, obras, guru, sekolah, belajar, yogyakarta, usaha, jogja, kursus, terbaik, batik, kaos, kebaya, jahit, baju jahit, mesin jahit, konveksi, kursus menjahit
Smok

Smok


Smok dalam bahasa umum atau smock (bahasa Inggris) berarti
mengerut. Sesuai dengan namanya kain smock adalah kain yang
berkerut-kerut akibat teknik menjahit dengan tarikan-tarikan tertentu.
Smock bukanlah teknik baru didalam dunia tata busana. Pembuatan
smock pada kain sudah cukup lama dikenal, bahkan berpuluh-puluh
tahun lalu, yaitu pada dekade akhir tahun enam puluhan. Baju-baju ber

smock sempat menjadi mode baik untuk baju anak-anak maupun
dewasa.
Pada pelatihan ini, kain ber-smock digunakan sebagai variasi
dekoratif dalam pembuatan kerajinan smock, diantaranya pembuatan
bantal kursi dengan berbagai macam variasi smock, seperti model sirip,
model ombak besar, model ombak kecil, model belah ketupat, model
bunga kelopak empat, model anyaman, model gelombang & model
jangkar, dan beberapa produk smock lainnya.
Model-model diatas telah disampaikan dalam bentuk teori tata
cara urutan pengerjaannya, kemudian mempraktekkan langsung
pengerjaannya, sesuai ukuran yang sebenarnya. Pokok-pokok kerja
yang harus dipersiapkan dalam pelatihan smock adalah:
 Alat dan bahan yang harus disiapkan:
 Kain, sesuai ukuran untuk model yang akan dibuat.
 Jarum tangan.
 Benang.
 Urutan kerja:
Membuat smock mula-mula dibuat pola kotak-kotak dengan
ukuran 1cm x 1 cm dengan jumlah tertentu, sesuai panjang dan
lebar yang dikehendaki. Ukuran 1cm x 1 cm bukanlah ukuran baku,
karena jika menginginkan model yang lebih besar bisa
menggunakan ukuran 1,5 cm x 1,5 cm atau sebaliknya. Setelah pola
dibuat diatas kain bagian belakang, selanjutnya dipersiapkan jarum
dan benang jahit. Benang yang digunakan sebaiknya sewarna
dengan bahan/kain, agar terlihat lebih rapi (Widayati, 2000). Urutan
pembuatan smock ini diuraikan pada gambar 1 berikut:

Mulai
Memilih Model
Persiapan Alat & Bahan
Pembuatan Pola Pada Bahan
Menentukan Arah Benang Yang Akan
Dijahit
Menjahit Dengan Tangan Sesuai Dengan
Pola
Penyelesaian Dengan Menyambung Bahan
Polos Bagian Belakang Dengan Smock
Selesai


Materi pelatihan smock dalam kegiatan ini adalah:

 Perancangan model smock.
 Pembuatan pola smock pada kertas pola (sesuai dengan model
yang diinginkan).
 Membuat produk smock, dengan cara menyatukan garis pola,
untuk kemudian dijahit tangan dan diikat.
 Pengukuran kembali ukuran smock.
 Pemasangan hiasan tambahan pada smock.
 Pengaplikasian teknik smock pada busana (1 produk baju anak)
dan lenan rumah tangga (3 produk).
 Pemeriksaan dan penyelesaian produk (finishing).

Metode Pelaksanaan
Untuk mencapai tujuan yang telah direncanakan, maka tahap dan
metode yang digunakan dalam pengabdian pada masyarakat ini adalah sebagai
berikut:
(1) Tahap Persiapan
a. Melaksanakan identifikasi calon peserta didik

Kegiatan ini dilakukan dengan beberapa cara yakni:
 Menghubungi pihak Kelurahan Moodu, Kota Gorontalo.
 Menghubungi para tokoh masyarakat di Kelurahan Moodu.
b. Melaksanakan seleksi dan menetapkan calon peserta didik
Kegiatan ini dilakukan dengan cara:
 Data yang terkumpul diinventarisir.
 Setelah diinventarisir dengan baik dilakukan pemilihan prioritas
berdasarkan pertimbangan kelayakan seperti dari aspek usia,
pendidikan, serta kebutuhan.
 Melaksanakan penetapan final calon peserta didik.
(2) Tahap Pelaksanaan
 Tempat Pembelajaran
Untuk kegiatan teori dan praktek, dilaksanakan di Kelurahan
Moodu, Kota Gorontalo.
 Sarana-parasana
Sarana pembelajaran berupa peralatan menjahit, bahan serta modul
pelatihan, disediakan oleh Dosen pelaksana kegiatan pengabdian
kepada masyarakat ini.
(3) Tahap Evaluasi
Untuk mengukur tingkat keberhasilan dan materi pelatihan
keterampilan yang diajarkan, dilakukan ujian praktek.

HASIL DAN PEMBAHASAN


(1) Tingkat keberhasilan pelaksanaan pelatihan, yang ditunjukkan oleh
indikator rata-rata kehadiran peserta didik diatas 90% dari jumlah
kehadiran yang ada.
(2) Jumlah peserta didik lulusan program pelatihan mencapai 95%
(meluluskan 19 orang dari 20 orang peserta saat awal).
(3) Perolehan nilai ujian (baik teori maupun praktek) rata-rata 86,5
(skala 100). Hal ini menunjukkan kemampuan peserta didik dalam
menyerap dan mamahami materi yang diberikan.
(4) Jika dilihat dari rata-rata penyelesaian produk, dapat dikatakan
terjadi peningkatan yang cukup signifikan, dimana warga belajar
mulai terbiasa mengerjakan produk-produk yang cukup rumit dan
tingkat kesulitan yang lebih variatif, dengan produk yang dihasilkan
sebanyak 1 unit pakaian anak dan 3 unit produk lenan rumah
tangga.
(5) Proses kecakapan hidup yang diberikan dalam kegiatan ini tentunya
lebih luas dari keterampilan vokasional atau sekedar keterampilan
untuk bekerja.

Identifikasi Kendala dan Solusi Yang diterapkan
Dalam pelaksanaan kegiatan pengabdian ini, beberapa kendala
yang dihadapi diantaranya:
(1) Tingkat pemahaman pentingnya kecakapan hidup sebagai modal
dasar dalam bekerja & berusaha oleh sebagian peserta didik masih
dirasakan kurang. Hal ini perlu dimaklumi mengingat tingkat
pendidikan formal dari peserta didik rata-rata putus sekolah atau
ibu-ibu rumah tangga.
Solusi: menerapkan aturan disiplin diantaranya menerapkan sistem
absensi dengan ketat, dimana warga belajar yang 3 (tiga)
kali berturut-turut tidak mengikuti kegiatan ini, dianggap
mengundurkan diri untuk selanjutnya digantikan oleh calon
peserta lainnya. Dalam kegiatan ini melibatkan pemuka

pemuka masyarakat, dan lurah agar senantiasa mengawasi
& memberikan pemahaman akan pentingnya kecakapan
hidup bagi warga belajar maupun keluarganya.

SIMPULAN
Berdasarkan hasil pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat
dapat disimpulkan beberapa hal berikut:
(1) Produk smock masih memiliki peluang yang cukup besar,
sehingga peserta pelatihan memiliki peluang berusaha mandiri
atau bekerja pada DUDI sejenis.
(2) Animo masyarakat untuk mengikuti kegiatan ini cukup besar,
namun dalam pelaksanaannya terbatas oleh jumlah dana dan
waktu pelaksanaan yang singkat.
(3) Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dapat terlaksana
dengan baik, jika didukung oleh sarana yang memadai, waktu
pelaksanaan yang cukup, keseriusan yang kuat dari para peserta
pelatihan untuk menyelesaikan pelatihan, dan keterlibatan
pemerintah lokal (lurah dan tokoh masyarakat setempat).
(4) Perlunya kerjasama antara perguruan tinggi sebagai pelaksana
pengabdian pada masyarakat dengan lembaga pemerhati masalah
sosial, agar pelaksanaan dapat tepat sasaran, jumlah dan waktu.
(5) Pelaksanaan kegiatan harus disertai dengan SOP (standart
Operational Procedure) yang jelas, dan penyediaan materi
pelatihan (buku panduan) yang memadai.
(6) Setiap kendala dilapangan dapat diatasi, jika komunikasikan
dengan baik dan ada kerjasama tim yang baik pula

DAFTAR PUSTAKA


Darmaprawira, W.A., 2002, Warna Teori dan Kreativitas
Penggunaannya, ITB, Bandung
Ernawati, et al., 2008, Tata Busana SMK Jilid 3, Direktorat Pembinaan
Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal
Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen
Pendidikan Nasional
Riyanto, Arifah A., 2003, Teori Busana Cetakan Kedua, Yapemdo,
Bandung
Roeswoto, H.I, 1999, Menjahit Pakaian Wanita dan Anak Tingkat
Dasar, Carina Indah Utama, Jakarta
Tim Penyusun, 2009, Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) Menjahit
Pakaian, Direktorat Jenderal Pendidikan Non Formal dan
Informal, Kementerian Pendidikan Nasional, Jakarta
Widayati, et al., 2000, Kerajinan Kain ; Teknik Menjahit Smok, Trubus
Agrisarana, Surabaya

0 komentar:

Post a Comment