IbPE KERAJINAN BERBAHAN SERAT, BAMBU, DAN KAYU

IbPE KERAJINAN BERBAHAN SERAT, BAMBU, DAN KAYU

DI SALAMREJO, SENTOLO, KULON PROGO, D.I. YOGYAKARTA*)

Oleh:
Darmono1),  Endarto Waluyo2), Tiwan3), dan Martono4)

Abstrak
Program IbPE yang direncanakan selama tiga tahun bertujuan untuk: (1) meningkatkan kualitas hasil produksi kerajinan serat pada kedua UKM mita dengan menerapkan  peralatan mesin pengering (oven), pengukur kadar air, mesin gergaji pita, dan mesin pewarna bahan dasar kerajinan; (b) meningkatkan kuantitas produksi kerajinan serat pada kedua UKM; (3) meningkatkan kuantitas dan memperluas wilayah pemasaran produk eksport dengan  pembuatan CD cataloc dan web base marketing, pelatihan SDM, dan penataan showroom; serta (4) mengatasi pencemaran lingkungan dengan membuat instalasi pengolah limbah cair sisa dari proses pewarnaan bahan dasar kerajinan serat.
Metode pelaksanaan program diawali dengan seminar awal, koordinasi untuk merencanakan pemecahan permasalahan UKM,  pelaksanaan program sesuai dengan kesepakatan dan program yang telah direncanakan, evaluasi, perbaikan hasil pelaksanaan program, dan diakhiri dengan seminar hasil kegiatan. Peralatan untuk pelaksanaan program yaitu menggunakan peralatan yang dimiliki oleh UNY serta berbagai peralatan yang dimiliki oleh kedua UKM. Sedangkan bahan untuk penunjang kegiatan yaitu dengan memanfaatkan bahan serat sebagai bahan utama kerajinan dan berbagai bahan penunjang yang ada di Yogyakarta dan sekitarnya. Evaluasi kegiatan dilakukan secara terus-menerus dalam rangka untuk mengatasi permasalahan yang terjadi pada saat itu, sehingga dapat dihasilkan produk kegiatan yang optimal.
    Hasil dari program IbPE pada tahun I (2010),  untuk UKM I dan II telah dapat diselesaikan dengan baik pengadaan 3 buah mesin jahit skala industri, 6 buah mesin pewarnaan produk kerajinan, pelatihan dan aplikasi bahan pewarna alami, pelatihan pengembangan SDM dengan tiga jenis pelatihan, pengadan CD katalog, perbaikan dan penambahan papan nama UKM, dan penambahan sarana pemasaran yang berupa web site khususnya untuk UKM I. Dampak dari program yaitu warna produk kerajinan 95% menjadi merata, menghemat waktu finishing, 100%, variasi produk eksport UKM meningkat, kedua UKM tidak lagi menjahitkan produk eksportnya ke tempat lain, terjadi pengembangan produk eksport di UKM I dan II hingga mencapai 20%, wilayah negara tujuan eksport menjadi lebih luas, dan pengiriman produk eksport oleh kedua UKM dapat diterima dengan baik oleh pemesan.

Kata kunci: program IbPE, produk eksport, dan kerajinan serat.
_____________
*)  Dibiayai oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan Nasional sesuai  dengan Surat Perjanjian Pelaksanaan Hibah Program Pengabdian kepada  Masyarakat Nomor: 035/SP2H/PPM/DP2M/III/2010 Tanggal 1 Maret 2010
1)  Dosen Jurusan Pendidikan Teknik Sipil dan Perencanaan FT UNY.
2)  Dosen Jurusan Akutansi FISE UNY.
3)  Dosen Jurusan Pendidikan Teknik Mesin FT UNY.
4)  Dosen Jurusan Seni Rupa FBS UNY.
A. PENDAHULUAN
1. Analisis Situasi
Sebagian besar masyarakat Desa Salamrejo, Sentolo, Kulon Progo, D.I. Yogyakarta merupakan perajin serat agel, enceng gondok, pandan, akar wangi, mendong, bambu, dan kayu baik sebagai industri rumah tangga maupun sebagai  usaha kecil dan menengah (UKM).  Bagi sebagian masyarakat Desa Salamrejo menekuni industri kerajinan tersebut  merupakan mata pencaharian pokok dan bahkan bagi masyarakat pendatang di desa tersebut.  Di desa sentra industri kerajinan berbahan serat tersebut terdapat beberapa  UKM yang telah memproduksi kerajinan berbahan serat, bambu, dan kayu yang telah dapat melakukan ekspor antar negara.  UKM yang telah berhasil melakukan eksport di Desa Salamrejo yaitu “Sain’s Craft“ dan “CV. Bhumi Cipta Mandiri”.
UKM Sain’s Craft  didirikan pada tahun 1978 oleh seorang ibu rumah tangga yang bernama Susmirah. Pada awal berdirinya Ibu Susmirah membuat sendiri kerajinan dari bahan serat agel kemudian dipasarkan ke Malioboro dan Pasar Tradisional Daerah Wisata Borobudur Magelang. Dalam perkembangannya UKM Sain’s Craft mengalami kemajuan secara terus-menerus sehingga sejak 1990 sudah dapat melakukan ekspor antar negara. Jumlah karyawan di UKM ini sangat tergantung pada besar kecilnya order yang setiap harinya antara 20 – 50 orang. Dari pekerja sebanyak itu kurang lebih 20 orang sebagai karyawan tetap dan yang lainnya adalah karyawan lepas.
Bahan baku untuk memproduksi kerajinan di UKM  Sain’s Craft berupa serat agel, enceng gondok, pandan, akar wangi, mendong, bambu, dan kayu. Bahan baku serat agel untuk pembuatan kerajinan tersebut sebagian diperoleh dari bahan lokal, namun bila memperoleh order yang besar UKM sering mendatangkan bahan baku dari daerah lain, seperti: Banyuwangi, Pasuruhan, Ambarawa, Purworejo, dan Cilacap. Harga bahan baku serat yang belum dipilin  (masih lembaran) berkisar antara Rp 5.000,00 – 15.000,00/kg. Variasi harga bahan baku ini tergantung dari kwalitas bahan tersebut. Untuk bahan baku agel yang sudah dipilin berkisar Rp 25.000,00/kg. Untuk bahan baku lokal seperti mendong dan enceng gondong harganya berkisar Rp 5.000,00/kg dalam kondisi kering. Dari bahan baku yang berupa serat, mendong, enceng gondok, dan akar wangi diproses dengan peralatan tradisional (manual), sedangkan  bahan bambu dan kayu diproses dengan peralatan bermesin sederhana yang dirangkai sendiri oleh para karyawan perusahaan. Kapasitas  produksi di UKM Sain’s Craft sebanyak ± 1.000 biji kerajinan setiap bulannya.
Tidak jauh berbeda dengan UKM I, UKM CV. Bhumi Cipta Mandiri  yang didirikan pada tahun 1997 di Dusun Giyoso, Salamrejo juga bergerak di bidang kerajinan berbahan serat.   Berbagai produk kerajinan yang terbuat dari bahan serat agel, enceng gondok, pandan, akar wangi, dan mendong di UKM CV Bhumi Cipta Mandiri  juga telah diekspor tidak hanya antar pulau akan tetapi sudah ke luar negeri, seperti ke: Australia, Spanyol, Perancis, Belanda, Amerika, Canada, dan lain-lain.
Jumlah karyawan di UKM CV Bhumi Cipta Mandiri  ini sangat tergantung pada besar kecilnya pesanan yang setiap harinya berkisar antara 20–30 orang. Bahan baku untuk memproduksi kerajinan di UKM  II hanya berupa serat agel, enceng gondok, pandan, akar wangi, dan mendong. Bahan baku serat agel untuk pembuatan kerajinan tersebut sebagian besar diperoleh dari bahan lokal, namun bila memperoleh pesanan yang besar UKM sering kali harus mendatangkan bahan baku dari daerah lain Harga bahan baku serat yang belum dipilin  (masih lembaran) juga berkisar antara Rp 5.000,00 – 15.000,00/kg. Untuk bahan baku agel yang sudah dipilin berkisar Rp 25.000,00/kg. Untuk bahan baku lokal seperti mendong dan enceng gondong yang dapat diperoleh di pasar tradisional dengan harga berkisar Rp 5.000,00/kg dalam kondisi kering.
Dari bahan baku yang berupa serat, mendong, enceng gondok, dan akar wangi diproses dengan peralatan tradisional (manual). Kapasitas  produksi di UKM CV Bhumi Cipta Mandiri  berkisar 1.600 biji kerajinan setiap bulannya.

2. Permasalahan UKM
Berbagai permasalahan yang dapat diidentifikasi di  kedua UKM (Sain’s Craft dan CV Bumi Cipta Mandiri) antara lain, yaitu: (1) permasalahan dalam proses produksi, (2) peralatan penunjang produksi, (3)  manajemen dan teknik pemasaran,  (4) administrasi perkantoran dan keuangan, dan (5) pengolahan limbah. Permasalahan dalam bidang proses produksi yaitu berupa: (a)  teknik pengeringan, (b) teknik pewarnaan bahan baku dan produk kerajinan,  (c) teknik pemotongan serat yang telah dianyam, dan (d) teknik pengolahan limbah. Terbatasanya peralatan mesin untuk pembentukan tangkai dan pegangan produk kerajinandan tidak dimilikinya mesin jahit untuk menjahit bingkai produk kerajinan yang berukuran tebal, dan manajemen pemasaran yang berupa pemasaran berbasis web juga merupakan permasalahan yang dialami oleh kedua UKM Mitra Kerja.

3. Tujuan Kegiatan
    Program Kegiatan IbPE yang direncanakan selama tiga tahun bertujuan untuk:
a.    Meningkatkan kualitas hasil produksi kerajinan serat dengan meenerapan  peralatan mesin pengering (oven), pengukur kadar air pada bahan dasar, mesin gergaji pita, dan mesin pewarnaan.
b.    Meningkatkan kuantitas produksi kerajinan serat dengan menerapan  peralatan mesin pengering (oven), pengukur kadar air, mesin gergaji pita (skrol), dan mesin pewarnaan.
c.    Meningkatkan kuantitas dan memperluas wilayah negara pemasaran produk dengan  CD cataloc, pelatihan SDM, dan web base marketing, serta penataan showroom.
d.    Mengatasi pencemaran lingkungan dengan membuat instalasi pengolah limbah cair sisa proses pewarnaan bahan dasar kerajinan serat.

B. METODE PALAKSANAAN
1. Solusi yang Ditawarkan
Berdasarkan uraian permasalahan yang dialami oleh UKM baik itu UKM I maupun UKM II, maka beberapa aliterernatif solusi yang ditawarkan adalah sebagai berikut.
a.    Permasalahan teknik pengeringan bahan baku produk kerajinan yang selama ini masih mengandalkan panas matahari sehingga pada malam hari dan musim penghujan tidak dapat beroperasi, solusi yang ditawarkan yaitu dilakukan penerapan mesin pengering (oven) yang dilengkapi dengan pengukur kadar air untuk pengeringan serat agel,  enceng gondok, pandan, akar wangi, mendong, bambu, dan kayu. Dengan adanya mesin pengering ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil produksi. Permasalahan tidak tersedianya mesin pengering ini, juga dialami oleh industri kerajinan di sekitarnya sehingga dengan adanya mesin pengering ini diharapkan pemecahan permasalahan ini dapat diterapkan pula oleh industri sejenis di sekitarnya.
b.    Penggunaan bahan pewarna kimia untuk produk kerajinan selain membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan, hasil pewarnaan yang diperoleh juga kurang memuaskan karena warnanya tampak menyolok mata (ngejreng, norak), bila terkena air mudah luntur, dan cepat pudar ketika terkena panas matahari yang berlebihan. Permasalahan ini akan akan diatasi dengan diterapkan bahan pewarna alami yang relatif aman bagi kesehatan manusia dan ramah lingkungan. Teknik ini mengancu pada hasil penelitian Martono (2005 dan 2006).
c.    Permasalahan pembuangan limbah cair yang dilakukan secara bebas ke alam yang sangat berbahaya bagi lingkungan sekitar, solusi yang ditawarkan yaitu  pembuatan instalasi pengolah limbah cair.
d.    Permasalahan pada terbatasnya peralatan penunjang produksi khususnya mesin pembentuk tangkap/pegangan/gantungan produk kerajinan, mal lengkung untuk produk kerajinan dan tidak tersedianya mesin jahit untuk bahan yang tebal keduanya akan diatasi dengan ”Mesin Gergaji Pita” dan ”Mesin Jahit Skala Industri”.
e.    Sedangkan permasalahan dalam manajemen pemasaran terutama untuk UKM II, akan diatasi dengan pembuatan  brosur, compact-disc catalog, maupun web base marketing serta penataan showroom. Sedangkan untuk UKM I tinggal pembenahan dan perbaikan serta melengkapi sarana pemasaran yang telah ada dan perbaikan buku manajemennya.


Comments