Pembahasan

Pembahasan

a. Pewarnaan Alami
Proses pewarnaan alami dimulai dari persiapan sampai pada pelaksanaan pewarnaan sudah dilakukan dengan baik. Dari eksperimen pewarnaan terbatas dalam skala laboratorium menggunakan beberapa jenis bahan warna alami ( kayu secang, kayu tegeran, kulit akar mengkudu, kulit kayu mahoni, kulit kayu akasia gunung, dan daun jatu) dengan menggunakan formula dan perlakuan sama yaitu (1 kg bahan warna + 5 liter air + direbus 30 menit). Prosedur pewarnaan melalui proses: (0) pra pewarnaan dimulai dengan proses pemutihan serat agel menggunakan bahan H2O2 agar serat agel menjadi putih terang sehingga dapat menyerap warna secara maksimal, (1) proses mordan yaitu serat agel direbus dengan tawas dengan tujuan untuk melapisi serat dengan oksida logam agar serat dapat menyerap warna dengan maksimal dan baik. (2) Proses pencucian serat agel dengan deterjen untuk menghilangkan kotoran atau minyak yang menempel pada permukaan serat, sehingga dalam pewarnaan dapat rata dan hasilnya baik. (3) Proses perwarnaan alami dengan cara serat agel dimasukan dalam larytan warna sampai rata dan baik. (4) Proses fiksasi untuk membangkitkan dan melindungi warna agar tidak mudah luntur. (5) Proses pencucian serat agel yang sudah diwarna dan pengeringan serat dengan cara dijemur tempat teduh yang tidak kena sinar matahari secara langsung. Setelah kering warna dikemas dalam wadah dan ditempatkan pada tempat yang kering tidak lembab dan siap untuk dibuat produk.
Hasil pewarnaan alami menunjukan bahwa semua bahan warna alami yang diuji hasilnya baik. Bahan warna dari kayu secang yang diterapkan pada serat agel dengan fiksasi kapur, tawas dan tunjung hasil warnanya sangat bagus atau paling bagus daya serap warnanya dibanding dengan bahan pewarna alami lainnya. Berdasarkan temuan uji laboratorium pewarnaan bahan kayu secang sangat bagus tetapi hasil uji laboratorium kelunturan dengan pencucian deterjen dan uji kelunturan dengan sinar matahari menggunakan skala abu-abu (dengan skala skor 1 - 5 ) menunjukan hasil dengan skor 4 artinya warnanya baik. Sementara, hasil uji bahan warna yang lain hasil warnanya tidak sekuat atau setajam wana secang, tetapi hasil uji laboratorium menunjukan skor 4 - 5 dan 5 artinya hasil warnanya baik dan baik sekali. Berdasarkan hasil uji skala abu-abu bahan pewarna kayu tegeran, kulit kayu mahoni, daun jati, akar kulit mengkudu, dan kulit kayu akasia gunung hasil uji kelunturan warna dengan deterjen dan sinar matahari hasilnya lebih baik dibanding dengan bahan warna kayu secang. Semua hasil pewarnaan alami berdasarkan hasil uji laboratorium hasilnya baik dan layak serta memenuhi standar untuk dibuat produk kerajinan.
Hasil uji kelunturan dengan sinar matahari untuk serat agel dengan warna sintetis untuk warna biru dan merah skor 4 dan warna kuning skor 4 - 5 artinya baik. Hasil uji kelunturan dengan pencucian sabun untuk serat agel dengan warna sintetis biru skor 3 artinya cukup, warna merah skor 3 - 4 artinya cukup baik, dan warna kuning skor 4 artinya baik
Dalam uji kecerahan warna (lighness) untuk semua warna dengan fiksasi tawas, kapur, dan  tunjung menunjukan skor mulai dari terendah 81,18 untuk serat agel sebelum di warna, sedangkan serat agel yang sudah diwarna alami skor terendah 87,17 untuk warna kulit akar mengkudu dengan fiksasi tawas, artinya daya serap warna rendah atau terang dekat dengan serat sebelum diwarna. Selisih skor warna sebelum dengan sesudah di warna hanya 6,01. Skor tertinggi untuk warna alami adalah kayu secang fiksasi kapur skor 179,74 artinya penyerapan warna paling kuat dan tua. Selisih skor sebelum diwarna dengan sesudah diwarna adalah 98,56 artinya daya serap warna atau kepekatan warna tinggi.
Sedangkan hasil uji spectrophotometer untuk warna sintetis kuning skor 91,07 dan serat sebelum diwarna skor 81,18 hanya selisih skor kurang dari 10.  Untuk skor tertinggi warna biru 182,51 jika dibanding dengan serat belum diwarna selisih skor 101,33 sangat tinggi perbedaan sebelum dan sesudah diwarna. Skor uji spectrophotometer pada warna alami tertinggi pada kayu secang fiksasi kapur 179,74, sedangkan pada warna sisntetis pada warna biru dengan skor 182,51 artinya menunjukan semakin tinggi skornya semakin pekat nilai warnanya.

b. Penerapan Teknologi Tepat Guna dan Teknologi Informasi
Terdapat dua jenis peralatan teknologi tepat guna yang diterapkan di UKM I dan UKM II pada tahun I pelaksanaan program IbPE ini yaitu: (1) pengadaan mesin jahit skala industri dan (2) mesin pewarna untuk produk jadi.  Bermodal dengan adaya mesin jahit skala industri ini UKM I dan UKM II sudah tidak lagi menjahitkan produk eksportnya ke jasa penjahit lain. Dengan memanfaatkan mesin jahit sendiri, waktu produksi dapat ditekan dan dapat menghemat biaya produksi. Begitu juga dengan adanya mesin pewarna untuk produk jadi di UKM II sebanyak 6 unit sangat membantu sekali proses penanganan produk yang warnanya tidak merata khususnya untuk produk-produk yang satu warna (tidak warna warni). Proses penangannya dengan cara produk tersebut disemprot kembali dengan pewarna sesuai dengan warna yang dikehendaki terutama pada bagian-bagian yang warnanya pudar. Peralatan yang digunakan  berupa kompresor, selang karet, regulator, dan spry gun. Apalikasi pelaksanaanya yaitu dengan cara merangkai komponen peralatan tersebut kemudian dilanjutkan dengan proses aplikasi penyemprotan produk sehingga waranya menajdi merata. Dengan cara demikian itu, produk dari UKM II hampir semuanya berupa produk kerajinan, seperti: tas, dompet, tempat tisu, topi, keranjang baju kotor, bantal lantai, dan lain-lain warnanya dapat teratasi dengan baik.
Lain halnya dengan adanya teknologi informasi khususnya untuk kecepatan menyebarkan informasi tentang jasa, produk, layanan publik dan lainnya merupakan salah satu tolok ukur keberhasilan bisnis perorangan atau perusahaan. Oleh karena itu kehadiran web marketing  akan dapat untuk memenuhi kebutuhan UKM I tersebut. Di saat UKM ingin memasarkan produk atau jasa melewati batas kabupaten, propinsi, negara, samudera dan antar benua, di saat UKM menginginkan orang lain memperoleh informasi yang benar mengenai jenis produk dan harganya, di saat UKM ingin melakukan transaksi bisnis yang memudahkan pelangan, di saat itulah UKM membutuhkan layanan web hosting, IndoGlobalWeb ada kapanpun UKM mitra kerja membutuhkan layanan tersebut.
Ratusan bahkan ribuan penyelenggara jasa web hosting, UKM dapat memulainya dengan mencari dari mesin pencari google atau yahoo, beberapa penyedia jasa layanan web hosting di Indonesia, salah satu yang terbaik dan termurah yaitu IndoGlobalWeb.Salah satu teknologi yang digunakan adalah fail over hosting, teknologi ini memungkinkan layanan anda tetap online 24 jam karena didukung oleh beberapa server komputer yang secara otomatis akan menggantikan tugas server komputer yang mengalami kerusakan, dan itu yang dilakukan IndoGlobalWeb demi kenyamanan dan kepuasan costumer, juga menyediakan layanan Back Up data tiap harinya secara otomatis.
Untuk memilih jasa WebHosting terbaik sesuai kebutuhan, pertama harus mengetahui apa kebutuhan UKM, pilihlah space web hosting sesuai kebutuhan, dan jangan lupa memperhatikan harganya, kedua, jika target pengunjung web nantinya sebagian besar berada di Indonesia maka pilihlah web hosting dengan server di Indonesia  dan jika target pengunjung web sebagian besar berada di luar Indonesia (luar negeri) maka dapat memilih web server dengan lokasi di USA.  Dengan memanfaatkan teknologi informasi tersebut, maka konsumen dapat memesan produk  dari mana saja, pelayanan akan lebih cepat, siapa saja dapat mengakses dengan capat, komunikasi lebih lancar sehingga dapat meningkatkan jumlah order khususnya untuk produk kerajinan berskala eksport.

c. Pelatihan Pengembangan Sumber Daya Manudia (SDM)
Selain pelatihan pewarnaan alami terdapat tiga jenis dalam rangka pengembangan SDM untuk mendukung peningkatan produk eksport untuk UKM I dan II. Ketiag jenis pelatihan tersebut yaitu: (1) Pelatihan pengembangan produk eksport, (2) Pelatihan membangun jejaring kemitraan, dan (3) Pelatihan membuat kemasan produk eksport.
    Pelatihan pengembangan produk eksport dapat menghasilkan variasi jenis yang diproduksi oleh kedua UKM. Pelatihan ini selain diikuti oleh karyawan UKM I dan II juga diikuti oleh UKM pendukung yang tersebar di Desa Salamrejo dan sekitarnya. Dengan demikian produk dari UKM mitra kerja dan UKM pendukung menjadi seragam dan saling dapat menunjang bila ada pesanan terutama bila jumlah pesanan banyak. Bwgitu juga dengan adanya pelatihan membangun jejaring kemitraan, UKM-UKM tersebut dapat saling bekerjasama dengan baik bukan sebaliknya mereka saling menjatuhkan antara satu dengan lainnya. Dengan demikian UKM-UKM tersebut dapat terkoordinasi dengan baik menjadi suatu perkumpulan.
    Pelatihan produk pembuatan kemasan produk eksport merupakan kegiatan yang tidak kalah manfaatkan dengan kegiatan yang lain. Dengan pelatihan ini para UKM dapat mengirimkan produk eksportnya dengan aman dan dapat diterima oleh pemasannya. Kegiatan pelatihan berupa pemilihan jenis dan kualitas bahan kemasan, mendisain kemasan agar efisien tempat, teknik pengemasan produk ekspor agar menjadi aman, teknik pemasukan produk dalam kemasan, dan teknik pelabelan kemasan. Dengan adanya pelatihan ini produk UKM I dan II sampai negara tujuan dengan aman, tidak rusak, dan diterima dengan baik oleh pemesan.

D. PENUTUP
1. Kesimpulan
    Kesimpulan dari hasil program kegiatan IbPE pada tahun I (2010) untuk UKM I dan II serta UKM-UKM pendukungnya adalah sebagai berikut.
a.  Untuk UKM I,  semua program dapat berjalan dengan baik sehinga berdampak pada: (1)  variasi produk kerajinan meningkat, kualitas warna menjadi lebih baik dan tahan lama (awet), penampilan warna lebih elegan, aman terhadap lingkungan, dan terjadi peningkatan variasi warna produk kerajinan, (2) UKM I sudah tidak lagi menjahitkan produk kerajinanya di tempat lain, kualitas produk meningkat, dan dapat menekan waktu produksi dan biaya produksi; (3) terjadi pengembangan disain produk (20%), peningkatan kreativitas dan imajinasi untuk menciptakan produk baru, dan Jumlah produksi meningkat (20%); (4) ada keberanian UKM pendukung untuk mengikuti kegiatan pameran (1 kali pameran lokal dan pameran tingkat nasional di Banten), dan wilayah negara tujuan eksport menjadi lebih luas sehingga jumlah produk eksport meningkat 20%; dan (5) produk ekspor aman sampai negara tujuan, tidak ada lagi produk yang ditolak karena kerusakan pada saat pengiriman, dan spesifikasi produk lebih terjamin sesuai dengan labelnya.
b. Untuk UKM II, seperti halnya UKM I dengan adanya program IbPE ini warna produk kerajinan 95% merata, menghemat waktu finishing, 100% pengiriman produk eksport diterima, variasi produknya meningkat, tidak lagi menjahitkan produk ekspornya ke tempat lain; terjadi pengembangan produk eksport hingga mencapai 20%, wilayah negara tujuan eksport menjadi lebih luas, dan pengiriman produk eksport dapat diterima dengan baik oleh pemesan.

2. Saran-saran
    Untuk kedua UKM mitra, program dan keberhasilan pelaksanaan tahun I (2010) terutama yang terkait dengan peralatan perlu dilakukan perawatan dengan baik dan semua peralatan tersebut sebaiknya dimanfaatkan secara optimal untuk menunjang dan meningkatkan produk eksport yang selama ini telah berjalan dengan baik. Berbagai bentuk pelatihan baik itu pewarna alami maupun pengembangan SDM sebaiknya diaplikasikan dengan baik guna menunjang pengembangan eksport kerajinan di masa yang akan datang. Pemasaran melalui teknologi informasi khususnya web site sebaiknya terus dikembangkan dan secara bertahap UKM perlu menambah dan melengkapi sarana dan prasarana untuk kelancaran web site tersebut.

UCAPAN TERIMAKASIH
Ucapan terimakasi didamapikan kepada Direktur DP2M Dikti beserta staf, Ketua LPM UNY beserta staf, kedua UKM mitra beserta karyawanya, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabuaten Kulon Progo, Dinas Pariwisata Kabuaten Kulon Progo, para tim monitoring dan evaluasi baik dari LPM UNY maupun DP2 Dikti atas segala partisipasi, sumbangan  pemikiran, dan evaluasinya sehingga program IbPE pada tahun I (2010) ini dapat berhasil dengan baik.


DAFTAR PUSTAKA
Clifton Potter, dkk,(1994). Limbah Cair Berbagai Industri di Indonesia; Sumber, Pengendalian, dan Baku Mutu. Jakarta: EMDI-BAPEDAL.

DP2M Dikti. (2006). Panduan Pengelolaan Program Hibah DP2M Ditjen Dikti. Jakarta: DP2M Ditjen Dikti.

DP2M Dikti. (2009). Buku Panduan Pengelolaan Hibah Program Pengabdian Kepada Masyarakat DP2M Ditjen Dikti Depdiknas. Jakarta: DP2M Ditjen Dikti.

Fessenden, Ralph, J., Fessenden, Joan S. (1982). Organic Chemistry, 2nd Edition. Boston: Willard Grant Press.

Hasanudin, dkk. (2001). Penerapan Zat Warna Alam dan Kombinasinya pada Batik dan Tekstil Kerajina. Laporan Penelitian. Yogyakarta: Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Industri Kerajinan Batik.

Hermien Roosita. (2005). Pedoman Pengelolaan Limbah B3. Jakarta: Kementrian Negara Lingkungan Hidup.

Lestari, K. dan Suprapto, H. 2000. Natural Dyes in Indonesia. Makalah Seminar. Yogyakarta: Deperindag.

Lestari, K., dkk. (2001). Penelitian Pemanfaatan Tumbuh-tumbuhan sebagai Zat Warna Alam. Laporan Penelitian. Yogyakarta: Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Industri Kerajinan Batik.

_________. (2004). Puderisasi Campuran Kayu Tegeran, Kulit Kayu Tingi, dan Jambal, dalam Upaya Komersialisasi Zat Warna Alam. Jurnal. Yogyakarta: Jurnal Riset Industri dan Perdagangan. Vol 2. No. 1. Juli 2004.

Martono. (2006). Teknologi Pewarnaan Alami pada Serat Alami di CV. Bhumi Cipta Mandiri Sentolo Kulonprogo, Yogyakarta. Laporan Penelitian. Yogyakarta: Lembaga Penelitian  Universitas Negeri Yogyakarta.

Pramudi dalam Widodo. (2005). Batik Sutra Warna Alam. Skripsi. Yogyakarta: FBS

Sachari Agus 1986. Paradigma Desain Indonesia. Jakarta: Rajawali.

Susanto Sewan. (1980). Seni Kerajinan Batik Indonesia. Yogyakarta: BPBK.
Susanto, S.K.S.,  dkk. 1992. Zat Warna dari Kayu Secang (Sapang) dan Warna dari Kayu Nangka untuk Warna Soga Batik Secara Praktis. Laporan Penelitian. Yogyakarta: Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Industri Kerajinan dan Batik.

Wardah dan Setyowati, F.M. (1999). Keanekaragaman Tumbuhan Penghasil Bahan Pewarna Alami di Beberapa Daerah di Indonesia. Laporan Penelitian. Yogyakarta: Dekranas.

Yustinus Suranto. (2002). Pengawetan Kayu; Bahan dan Metode. Yogyakarta: Kanisius


Comments