Psikodiagnostik

Psikodiagnostik

 baju jahit, batik, belajar, guru, indonesia, jahit, jogja, kaos, kebaya, konveksi, kursus, kursus menjahit, les, mesin jahit, obras, private, sekolah, terbaik, usaha, yogyakarta
Psikodiagnostik

gambar dan cara. membuat pola dasar baju wanita dewasa  - Kita telah membahas mengenai metode pengukuran kepribadian. Dalam melakukan pengukuran kepribadian, kita membutuhkan alat ukur kepribadian. Alat ukur tersebut dapat berupa panduan wawancara, panduan observasi, inventori ataupun tes proyeksi kepribadian. Pada pertemuan yang lalu, kita sudah belajar mengenai berbagai jenis alat ukur kepribadian berbentuk inventori. Pada pertemuan kali ini, kita akan membahas mengenai alat ukur kepribadian berbentuk proyektif.



Dalam mengungkap kepribadian seorang manusia, menggunakan alat ukur kepribadian berbentuk inventori akan sangat memudahkan dan efisien dari segi waktu. Namun, inventori memiliki salah satu kelemahan, bahwa pada individu tertentu ada kecurangan atau ketidakjujuran dalam memberikan respon atau jawaban. Oleh karena itu, muncullah alat ukur kepribadian berbentuk proyektif. Dalam alat ukur kepribadian berbentuk proyektif, aspek kepribadian yang ingin diungkap tidak ditanyakan secara langsung kepada testee, karena : (1) Tidak semua orang dapat mengkomunikasikan dengan jelas ide dan sikap yang ada dalam kesadaran ; (2) Banyak hal yang tidak disadari oleh seseorang, yang tidak mampu untuk dikemukakannya.
Oleh karena itu, untuk mengungkap kepribadian, diperlukan stimulus sebagai sarana proyeksi. Asumsinya dari penggunaan stimulus tersebut adalah : (a) Testee akan menginterpretasikan stimulus berdasarkan pengalaman masa lalu dan kebutuhan masa kini ; (b) Testee membuat cerita dengan mengingat pengalaman dan mengekspresikan kesenangan/ketidaksenangan, kebutuhan secara sadar/tidak sadar.

Proyeksi memiliki dua arti, yaitu : (1) Secara umum, kata proyeksi dikaitkan dengan alat yang bernama proyektor, sehingga proyeksi artinya mengeluarkan gambar dari proyektor ke suatu layar proyeksi ; (2) Menurut Freud, proyeksi adalah suatu proses psikopatologis. Proyeksi merupakan satu di antara mekanisme pertahanan diri yang banyak terjadi pada individu, yaitu kecenderungan melakukan eksternalisasi dari dorongan yang tidak dapat diterima dan tidak disadari oleh diri sendiri.
Pada tahun 1939, Frank memperkenalkan istilah teknik proyeksi untuk prosedur pemeriksaan psikologi. Dalam teknik proyeksi ini, stimulus yang diberikan adalah stimulus ambigu atau tidak jelas. Asumsi diberikannya stimulus yang ambigu adalah bahwa cara individu mempersepsikan stimulus ambigu akan tergantung pada proses berpikir, kebutuhan, kecemasan, konflik, atau perasaan yang terjadi dalam diri mereka. Selain ambigu, stimulus yang diberikan kepada subjek merupakan stimulus tidak berstruktur. Stimulus tidak berstruktur ini menuntut subjek untuk mendeskripsikan, melengkapi, menceritakan, atau merespon dengan beberapa cara yang berbeda. Stimulus tidak berstruktur menyebabkan semakin luasnya kemungkinan jawaban yang diberikan subyek dan jawaban ini mengandung hal penting dari kepribadian subyek. Untuk mencapai tujuan ini, maka instruksi yang diberikan kepada subjek, hanyalah instruksi yang umum dan singkat. Stimulus ambigu dan tidak berstruktur inilah yang menjadi sifat khas dari pengukuran kepribadian dengan teknik proyektif. Sebuah stimulus yang semakin ambigu dan tidak berstruktur, maka semakin kecil kemungkinan subjek untuk bersikap defensif dalam memaparkan dirinya secara tidak sadar.
Kekuatan dari teknik proyeksi adalah dapat menjangkau lapisan-lapisan yang lebih dalam dari kepribadian, yaitu yang tidak disadari subjek. Artinya, teknik ini sangat efektif untuk mengungkapkan aspek kepribadian yang tertutup, laten, atau tak sadar. Sedangkan kelemahan teknik proyeksi adalah : (1) Tidak seobyektif dan seakurat tes kognitif ; (2) Stimulus yang tidak terstruktur menyebabkan kesulitan dalam membuat penilaian ; (3) Akibat masalah penilaian, kebanyakan tehnik proyeksi tidak memenuhi standar konvensional dari validitas dan reliabilitas.
Perkembangan teknik proyeksi pada tahun 1930 – 1960 ini sangat dipengaruhi oleh teori psikoanalisa. Hal ini disebabkan karena pada masa itu, teori psikoanalisa merupakan teori yang sangat kuat pada bidang psikologi dan psikiatri. Pada awalnya, penggunaan teknik proyeksi hanya terbatas di bidang klinis dan dilakukan secara individual. Namun, dengan berkembangnya ilmu psikologi, ilmu lain, dan teknologi yang pesat, maka teknik ini dapat diterapkan pada bidang lain dan dilakukan secara klasikal atau kelompok.
Menurut Bellak, tes proyeksi terbagi atas lima kategori, yaitu : (1) Metode yang didasarkan pada isi. Metode ini berkaitan dengan apa yang dikatakan oleh subjek. Contohnya adalah TAT, CAT, inquiri dari Rorschach ; (2) Studi terhadap aspek ekspresif, yaitu bagaimana subjek mengatakan atau melakukan sesuatu. Contohnya adalah Rorschach dan Grafologi ; (3) Fungsi Gestalt, fungsi ini terlihat apakah subjek dapat melihat gambar sebagai suatu keseluruhan atau mengabaikan bagian tertentu dari gambar. Contoh, TAT, CAT, Rorschach, Bender Gestalt ; (4) Body image atau self image, yaitu bagaimana subjek melihat dirinya. Contoh, DAP, DAT, TAT, CAT, Rorschach ; (5) Metode memilih (preference), jika sesuatu yang dipilih oleh subjek, maka itu adalah indikator dari kepribadian dirinya. Contoh, Tes Szondi. 
Menurut Anastasi (2007), teknik proyeksi terbagi atas : Pertama, Teknik Noda Tinta, yaitu teknik proyeksi yang menggunakan noda tinta. Misalnya Tes Rorschach, Sistem Komprehensif Exner, Teknik Noda Tinta Holtzman. Kedua, Teknik Gambar (Pictorial), yaitu teknik yang menggunakan gambar orang atau hewan sebagai stimulus. Misalnya TAT, CAT, Tell Me A Story, Gerontological Apperception Test, Rosenzweig Picture Frustration Study. Ketiga, Teknik Verbal, yaitu teknik yang menggunakan kata-kata secara keseluruhan sebagai sebuah stimulus. Misalnya, SSCT, FSCT. Keempat, Teknik Kinerja, yaitu sebuah teknik yang memberikan kesempatan subjek untuk mengungkapkan diri melalui sebuah aktivitas tertentu. Misalnya, DAM, DAT, Wartegg.







Teknik ini tidak akan dipelajari dalam satu pertemuan.
Dalam pertemuan ini, kita akan membahas Teknik Kinerja
(Draw A Man, Draw A Tree, HouseTreePerson, Wartegg).
SEJARAH PERKEMBANGAN TES GRAFIS
Pada akhir abad 19, Fechne, Wundt dan Ebbinghaus merupakan psikiater di bidang gangguan mental, yang mempengaruhi teknik untuk melakukan asesmen klinis terhadap para pasiennya. Dalam pengukuran kepribadian, Tes Grafis muncul sebagai salah satu jenis tes kepribadian bentuk proyektif. Tes Grafis ini berkembang pada awal abad 20, walaupun pada beberapa dekade sebelumnya sudah terdapat berbagai aplikasi grafologi berupa pembacaan tulisan tangan, tanda tangan dan coretan manusia yang dapat diintepretasikan. Dalam bidang Grafologi, muncul tokoh penting seperti Goodenough, Machover, Moch, Kinget, Wartegg dan yang lainnya. Bidang Grafologi ini terus berkembang hingga saat ini, untuk mengungkap proyeksi dari grafis, baik dengan metode kualitatif maupun kuantitatif.

DRAW A MAN / DRAW A PERSON
Ada dua jenis utama tes grafis menggambar orang, yaitu :
a. Berdasarkan Teori Goodenough-Harris. Tes Goodenough-Harris mengungkap kemampuan IQ, dengan dasar bahwa sebelum orang dapat membaca dan menulis, maka yang dilakukan adalah menggambar atau melakukan coretan. Tes ini meminta subjek untuk menggambar figur manusia, karena adanya asumsi bahwa gambar yang mudah dikenali dari suatu objek adalah bentuk manusia dan semenjak dini individu sudah seringkali menggambar orang dibandingkan menggambar bentuk atau objek lain. Menurut Florence Laura Goodenough, individu melakukan coretan karena adanya proses mental berdasarkan perkembangan intelektual. Menurut Goodenough, gambaran anak kecil terkait erat antara konsep perkembangan mental dan kemampuan intelegensi secara umum. Goresan atau coretan anak lebih menunjukkan ekspresi diri dibandingkan keindahan. Gambar yang dibuat cenderung apa yang diketahui dan bukan apa yang dilihat. Dasar tersebut merupakan landasan perkembangan intelegensi dan mental anak yang dapat diamati mengacu pada standar normatif yang harus dibuat. Pada versi Goodenough, subjek diminta menggambar satu figur manusia dan dinilai dalam 53 aspek. Aspek yang muncul akan diberi nilai 1, jika tidak muncul diberi nilai 0. Nilai total yang diperoleh akan dikonversikan ke norma sesuai usia dan menghasilkan nilai IQ. Harris merevisi tes menjadi tes Goodenough-Harris. Harris menguatkan aspek penting yang belum selesai dikembangkan oleh Goodenough. Skala penting yang ditambahkan oleh Harris adalah tema yang dapat diamati pada fase remaja. Pada versi ini, subjek diminta menggambar tiga gambar yaitu : laki-laki, perempuan dan diri sendiri. Aspek yang dinilai berjumlah 73. Nilai total dikonversikan ke norma sesuai usia. Tes ini dipakai untuk melihat perkembangan mental anak dan mengukur IQ remaja. Tes ini mudah digunakan dibandingkan Binet atau tes Weschler. Aspek-aspek yang ada pada tes ini antara lain adalah : kepala, kaki, tangan, tubuh, bahu, leher, muka, telinga, kening, mata, bulu mata, pupil, dagu, hidung, mulut, bibir, lubang hidung, rambut, pakaian, bagian-bagian pakaian, jari, lengan, tumit, dll. Gambar di bawah ini merupakan Proses perkembangan goresan dari 2 tahun sampai 6 tahun


b. Berdasarkan teori Machover (1949). Versi Machover lebih mengungkap kondisi psikis berdasarkan teori psikoanalisa. Machover berasumsi bahwa individu menggambar orang adalah cerminan atau persepsi diri dengan berbagai atribut yang melatarbelakangi. Ada aspek yang dapat diintepretasikan dari hasil coretan, yaitu : (i) bagaimana cara subjek menggambar ; (ii) bagaimana posisi gambar ; (iii) ruang yang dipakai subjek, apakah figur ditempatkan di bagian atas, bawah, kanan atau kiri dari kertas ; (iv) gerak, apakah subjek menggambar dengan tekanan, arsiran, atau bayangan ; (v) bentuk gambar, yaitu seberapa berkualitas proporsi figur yang digambar, detil, penyimpangan objek dan penggabungan berbagai objek dalam satu kesatuan objek manusia ; (vi) ukuran gambar, ukuran gambar proporsional menunjukkan refleksi langsung dari penilaian diri subjek, sehingga gambar yang terlalu besar menunjukkan agresi atau dominasi, sedangkan figur yang terlalu kecil terkait erat dengan ketidakpercayaan diri, rasa rendah diri dengan lingkungan sosial. Namun, perlu diperhatikan, bahwa representasi gambar terlalu besar bukan hanya aktualitas dari keinginan dominasi atau agresi, tetapi dapat terjadi karena ada faktor tidak adekuat yang muncul yaitu kompensasi dari rendah diri. Selanjutnya, kita akan membahas detil mengenai bagian objek manusia itu.
Kepala. Dalam psikoanalisa, kepala diartikan sebagai super-ego, pusat kendali diri terhadap aturan agama, sosial, keluarga, atau hukum. Simbolisasi kepala dapat melihat bagaimana individu menghadapi atau membawa diri dalam lingkungan. Kepala dianggap sebagai simbol intelektualitas, fantasi, kematangan, dan eksistensi diri. Jika orang menarik diri dari sosial cenderung mengabaikan kepala. Hidung yang tidak proporsional dapat dikatakan memiliki simtom waham grande. Penguatan di bagian mata menunjukkan subjek mencoba mendapat perhatian lebih dari lingkungan. Penekanan pada bibir menunjukkan kebutuhan berkomunikasi atau keinginan menonjol di lingkungan. Hidung dan mulut adalah fase perkembangan awal pada tahap oral dan anal. Ketidakadekuatan hidung dan mulut menunjukkan kecemasan karena pada fase akhir oral dan anal, individu mulai mengenal rasa cemas.
Leher. Leher diartikan sebagai penghubung super-ego dengan ego dan id. Gambar leher yang kokoh menunjukkan adanya kontrol diri antara super-ego dan dorongan diri. Penekanan pada leher menunjukkan subjek merasa cemas atau terkekang terhadap hal-hal yang belum diselesaikan. Objek kecemasan perlu dihubungkan dengan objek lain dari keseluruhan gambar.
Badan. Badan menunjukkan pusat kesadaran diri. Pada coretan subjek dewasa akan terdapat aksesoris seperti, kancing baju, saku, sabuk, dasi. Aksesoris menunjukkan adanya kebutuhan berbeda. Dasi menunjukkan subjek ingin sukses bekerja atau menunjukkan status sosial lebih tinggi dibandingkan saat ini. Cincin, jam, kalung, gelang menunjukkan kebutuhan akan harta.
Bahu. Bahu menunjukkan kekuatan fisik. Ketiadaan bahu berarti adanya ketidakberdayaan subjek terhadap hal yang terkait dengan kondisi fisik. Selain itu, ketiadaan bahu menunjukkan gejala gangguan otak (namun hal ini perlu didukung dengan sumber data lain).
Lengan dan tangan. Lengan dan tangan yang terbuka atau tertutup menunjukkan keterbukaan atau ketertutupan dalam menghadapi lingkungan. Tangan yang memegang benda tertentu dan terjadi penguatan pada benda menunjukkan dorongan untuk menguasai. Kepalan tangan menunjukkan dendam atau dorongan untuk menyelesaikan sesuatu. Tangan disembunyikan atau disimpan dalam saku menunjukkan ketertutupan.
Kaki dan Tungkai. Kaki menunjukkan kestabilan dalam membawa diri. Ketiadaan tungkai atau kaki menunjukkan subjek tidak aman atau nyaman dengan kondisi. Kaki dengan aktivitas menunjukkan subjek memiliki dorongan untuk berubah terhadap beragam situasi.
Gambar stick-man. Gambar stick-man menunjukkan regresi atau ketidakmatangan perkembangan mental tertentu. Tidak adanya representasi super-ego dan ego menjadikan subjek membuat figur dasar berupa coretan-coretan yang merepresentasikan id.
DRAW A TREE
Draw a Tree dikembangkan oleh Karl Koch. Materi yang digunakan dalam tes ini adalah kertas A4 80gr, pensil HB, alas menggambar yang licin dan keras. Instruksi yang diberikan pada tes ini adalah ”Gambarlah pohon, kecuali pohon cemara, randu, kelompok palma, bambu”. Mengapa subjek diminta menggambarkan pohon? Tanaman memiliki sistem terbuka, yaitu pertumbuhan yang menuju keluar. Segala sesuatu terjadi di permukaan, dibentuk dibawah kulit dan ujung-ujung tunasnya. Keberadaan tanaman adalah gerakan hidup keluar, usaha menjauhi zone pertumbuhan pusat. Hanya pohon yang memperlihatkan kondisi ini. Pohon tidak pernah berhenti berkembang, melainkan tumbuh sempurna, berbunga, berbuah kemudian mati. --- Manusia merupakan sistem tertutup. Hidup fisik diarahkan kedalam. Semua organ sudah ada sejak awal. Dalam tubuh semua organ diberi makanan (darah), sepanjang hidup. Dalam eksistensi manusia, segala sesuatu bergerak ke dalam dan dikendalikan organ pusat. --- Gambar pohon yang dibuat manusia merupakan sekresi dari yang ada di dalam. Gerak keluar menjadi bentuk yang menyerupai manusia, namun dengan sifat yang berbeda. Ini yang dikatakan sebagai proyeksi dari psyche. Dalam melakukan interpretasi gambar, perlu diperhatikan usia dan latar belakang subjek. Kematangan usia menentukan bentuk objek yang digambar. Latar belakang subjek cenderung berpengaruh dengan jenis pohon yang digambar.
Ukuran terkait dengan kertas. Ukuran gambar kecil menunjukkan kecenderungan berhati-hati dan teliti. Sedangkan ukuran gambar besar menunjukkan ambisi yang besar.
Kualitas garis. Goresan kuat menunjukkan sisi agresi dan pemenuhan diri. Goresan lembut menunjukkan kehalusan, ketertutupan, dan ketenangan diri. Goresan berulang-ulang, menunjukkan keraguan atau kecemasan.
Penempatan objek. Objek ditempatkan di bagian atas menunjukkan adanya dorongan dalam hidup. Objek ditempatkan di bagian bawah menunjukkan pribadi yang realistis dan praktis. Objek ditempatkan di bagian tengah menunjukkan pribadi yang dapat mengatur diri sesuai kemampuan dengan situasi sekitar.
Detil objek. Gambar memiliki sedikit garis atau hanya garis utama menunjukkan subjek berpikir secara konseptual dan memandang secara keseluruhan. Gambar memiliki banyak garis menunjukkan subjek memiliki perhatian terhadap detil.
Penampakan gambar. Gambar yang tinggi menunjukkan harapan yang tinggi. Gambar yang menguat di bagian atas menunjukkan ambisius atau energik. Gambar yang pendek lebar menunjukkan adanya kestabilan dan konsistensi. Gambar yang tertiup angin menunjukkan dorongan untuk bergerak.
Dasar. Munculnya dasar tanah menunjukkan rasa aman dan perencanaan. Adanya tanah menunjukkan kebahagiaan. Dasar pohon digambarkan pada pot menunjukkan keinginan untuk berubah. Dasar pohon digambarkan di lembah menunjukkan dorongan untuk diperhatikan.
Akar. Kuatnya akar menunjukkan dorongan id yang kuat dan harus dihadapi. Munculnya akar yang kuat menunjukkan konflik atau kecemasan, karena subjek harus mengekang dorongan itu yang direpresentasikan dengan kuatnya gambar batang pohon.
Pangkal Batang. Kemiringan dalam pangkal batang menunjukkan hambatan pada fase awal perkembangan pribadi.
Batang. Adanya gambar batang menunjukkan dorongan menonjolkan diri. Terlalu kuatnya garis atau tekanan pada batang menunjukkan agresi atau kecenderungan untuk mendominasi sosial.
Bayangan objek. Bayangan terhadap objek menunjukkan keadaan emosional yang ingin disampaikan. Kualitas bayangan yang lembut menunjukkan kepekaan terhadap sosial, namun bayangan cenderung gelap menunjukkan kecemasan.
Dahan. Dahan menunjukkan perkembangan yang belum sempurna terhadap sikap sehari-hari subjek dengan lingkungan.
Mahkota. Mahkota menunjukkan adanya penerimaan individu terhadap norma dan aturan. Mahkota juga menggambarkan keterbukaan atau ketertutupan dalam menghadapi lingkungan.

HOUSE TREE PERSON (1948) dan KINETIC DRAWING SYSTEM FOR FAMILY AND SCHOOL
House Tree Person dikembangkan oleh JN, Buck dan WL Warren dari Western Psychological Services. Tes ini variasi dari tes DAP. Buck berasumsi bahwa, selain manusia, pohon dan rumah juga memiliki arti simbolis. Pada tes ini, subjek diminta untuk membuat gambar bebas tanpa ukuran berupa rumah, pohon, dan orang.
Kinetic Drawing System for Family and School dikembangkan oleh HM. Knoff dan HT Prout dari Western Psychological Services. Tes ini ditujukan untuk anak-anak dan remaja. Pada tes ini, subjek diminta menggambar keluarganya yang sedang mengerjakan sesuatu. Setelah gambar selesai, subjek diminta untuk : (1) mengidentifikasi tiap anggota keluarga pada gambar itu ; (2) mendeskripsikan apa yang dilakukan anggota keluarga dalam gambar itu dan mengapa mereka melakukannya ; (3) menjelaskan hubungan antar anggota keluarga itu. Prosedur ini dapat diterapkan juga pada konteks sekolah.
WARTEGG (Drawing Completion Test)
Pada awalnya, tes ini dikembangkan oleh Krueger dan Sander dari Leipzig University dengan paham Ganzheit Psychologie atau Wholistic Psychology atau Psikologi Gestalt. Kemudian, pengembangan selanjutnya dilakukan oleh Ehrig Wartegg dan Kinget. Tes Wartegg yang sering disajikan di Indonesia merupakan versi dari Kinget. Tes ini terdiri empat deret kotak di bagian atas dan empat deret kotak di bagian bawah dengan ukuran 1,5 x 1,5 inchi. Masing-masing kotak terdiri dari pola tertentu berupa titik, garis lengkung, garis kaku. Kinget berasumsi bahwa delapan stimulus dapat memberi sarana bagi subjek untuk melakukan eksplorasi terhadap berbagai nilai yang relevan. Dengan demikian, tester dapat melakukan diagnosa dari respon subjek. 
Sander menyatakan bahwa goresan dapat menunjukkan empat aspek. Pertama, Emosi. Emosi terbagi dua yaitu terbuka (outgoing) dan tertutup (seclusive). Kedua, Imajinasi. Imajinasi Kombinasi didasarkan pada persepsi dan penerimaan berbagai hubungan realitas yang ada. Imajinasi Kreatif didasarkan pada tidak adanya hubungan antara realitas dengan fantasi pribadi. Ketiga, Intelektual. Inteligensi Praktis menekankan pada pola pikir sistematis, fakta, dan realitas konkret. Inteligensi Spekulatif menekankan pada prinsip. Keempat, Aktivitas. Aktivitas Dinamis menunjukkan individu siap mengeksplorasi dan antusias untuk pemenuhan kebutuhan diri. Aktivitas Terkontrol menunjukkan subjek lebih stabil dalam setiap pilihan dan tindakan.
Ada tiga tahap penting untuk melakukan interpretasi dalam tes Wartegg, yaitu :
1. Stimulus Drawing Relation, yaitu melihat hubungan gambar subjek dengan stimulus yang ada, apakah stimulus menjadi bagian dari gambar atau terlepas dari gambar. SDR membantu tester untuk melihat persepsi dan afeksi subjek.
2. Content, yaitu melihat isi gambar subjek. Suatu gambar mempunyai isi atau makna jika mewakili sebagian dunia fisik yang dapat dilihat. Content membantu tester melihat kecenderungan minat dan pikiran dari subjek.
3. Execution, yaitu melihat bagaimana cara subjek membuat gambar. Hal itu dapat dilakukan dengan melihat bagaimana ukuran gambar, kualitas garis, dll).

       Stimulus Drawing Relation
1. Titik. Titik merupakan stimulus kecil dan mudah terabaikan. Munculnya respon terhadap titik menunjukkan kepekaan, emosi stabil, spontan, dan detil. Tidak adanya respon terhadap titik menunjukkan ketegangan, rasa tidak aman, emosi labil dan kurang perhatian.
2. Wavy line. Munculnya respon menunjukkan hubungan sosial memadai. Tidak adanya respon menunjukkan keterasingan, ketegangan dan kecemasan, tidak aman dan hambatan afeksi.
3. Tiga garis vertikal menaik. Munculnya respon menunjukkan keinginan untuk maju, dan stabil. Tidak adanya respon menunjukkan kurang aktif, dan rendahnya self-esteem.
4. Kotak hitam. Munculnya respon menunjukkan solid, statis, kaku dan mampu berpikir faktual. Tidak munculnya respon menunjukkan kurang realistik dan praktis dalam berpikir.
5. Dua garis hampir menyilang. Munculnya respon menunjukkan mampu berpikir faktual, teoritis, kompetitif dan ambisius. Tidak adanya respon menunjukkan pola pikir praktis, kurang aktif, dan kurang konsisten.
6. Garis horisontal dan vertikal. Munculnya respon menunjukkan mampu berpikir faktual, teoritis, kompetitif dan ambisius. Tidak adanya respon menunjukkan pola pikir praktis, kurang aktif, dan kurang konsisten.
7. Setengah lingkaran dot. Munculnya respon menunjukkan keluwesan, detil, dan cerdas. Tidak adanya respon menunjukkan tidak aktif secara sosial, ketegangan, kurang perhatian.
8. Kurva. Munculnya respon menunjukkan hubungan sosial yang memadai. Tidak adanya respon menunjukkan keterasingan dan rasa tidak aman.

Daftar Pustaka
Aiken, L.R & Groth-Marnat, G (2009). Pengetesan dan Pemeriksaan Psikologi, Jilid 2, Edisi Kedua Belas. Jakarta : PT Indeks

Alwisol (2009). Psikologi Kepribadian. Malang : UMM Press

Anastasi, A & Urbina, S (2007). Tes Psikologi, Edisi Ketujuh (Terjemahan). Jakarta : PT Indeks.

Kinget, G.M (2000). Wartegg, Tes Melengkapi Gambar (Terjemahan). Yogyakarta : Pustaka Pelajar

Markam, S.S. Pengantar Psikodiagnostik. Jakarta : Lembaga Pengembangan Sarana Pengukuran dan Pendidikan Psikologi Fakultas Psikologi Universitas Indonesia

 Dengan adanya informasi yang kami sajikan tentang  gambar dan cara. membuat pola dasar baju wanita dewasa

, harapan kami semoga anda dapat terbantu dan menjadi sebuah rujukan anda. Atau juga anda bisa melihat referensi lain kami juga yang lain dimana tidak kalah bagusnya tentang Pengertian benda pakai dan contoh nya 

. Sekian dan kami ucapkan terima kasih atas kunjungannya.

buka mesin jahit : modul.mercubuana.ac.id/files/pbael/...2011/.../PsikodiagnostikIGP1011TM9

0 komentar:

Copyright © 2016 Kursus Menjahit.