, , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Standar Mutu Jahitan

les, indonesia, private, obras, guru, sekolah, belajar, yogyakarta, usaha, jogja, kursus, terbaik, batik, kaos, kebaya, jahit, baju jahit, mesin jahit, konveksi, kursus menjahit
Standar Mutu Jahitan

Standar Mutu Jahitan


Pernahkan baju yang kalian beli, baru beberapa kali/saat dipakai
robek/terlepas jahitannya, warnanya pudar atau menjadi kecil? Sukakah
kalian mengamati situasi perdagangan pakaian? Suasananya sangat ramai,
hiruk pikuk atau lengang? Para pembeli disibukkan dengan pakaian yang
dipilihnya, baik memilih model, warna pakaian sampai kualitas jahitanpun
diperhatikannya, benar ini sangat penting, jangan sampai sesampai di rumah atau
setelah dipakai beberapa saat pakaian sudah robek atau terlepas jahitannya.
Selain model pakaian semua orang pasti berkeinginan untuk memiliki pakaian
yang kuat jahitannya, sehingga awet dipakai.

Pengertian Standar Mutu Jahitan



Standar mutu jahitan merupakan ukuran patokan (standar) terhadap kualitas
(mutu) suatu produk jahitan. Mutu produk adalah kesesuaian ciri dan karakter
produk yang dibuat, dengan ciri dan karakter produk yang diminta, dan
kemampuan suatu produk untuk memenuhi kebutuhan pemakai dalam kondisi
tertentu Untuk mencapai standar mutu yang diharapkan, maka harus dilakukan
pengendalian mutu atau dikenal dengan istilah Quality Control. Quality Control
adalah semua usaha untuk menjamin (assurance) agar hasil dari pelaksanaan
sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan dan memuaskan konsumen
(pelanggan).

Tujuan quality control adalah agar tidak terjadi barang yang tidak sesuai dengan
standar mutu yang diinginkan (second quality) terus-menerus dan bisa
mengendalikan, menyeleksi, menilai kualitas, sehingga konsumen merasa puas
dan perusahaan tidak rugi.


Tujuan QC (Quality Control) adalah:


a) untuk memperoleh keuntungan dengan cara yang fleksibel.
b) untuk menjamin agar pelanggan merasa puas, investasi bisa kembali.
c) perusahaan mendapat keuntungan untuk jangka panjang.
Bagian pemasaran dan bagian produksi tidak perlu melaksanakan, tetapi perlu
kelancaran dengan memanfaatkan data, penelitian dan testing dengan analisa
statistik dari bagian QC yang disampaikan kepada pihak produksi untuk
mengetahui bagaimana hasil kerjanya sebagai langkah untuk perbaikan.
Saat pelaksanaan pengujian QC dan testing bila ditemukan beberapa masalah
khusus, perlu dibuat suatu study agar dapat digunakan untuk mengatasi masalah
di bagian produksi tersebut.

Di samping tersebut di atas tugas bagian QC yaitu jika terjadi komplain,
mengadakan cek ulang dan menyatakan kebenaran untuk bisa diterima secara
terpisah lalu dilaporkan kepada departemen terkait untuk perbaikan proses
selanjutnya.

Untuk itu perlu dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:


1) Pengendalian biaya (Cost Control)
Tujuannya adalah agar produk yang dihasilkan memberikan harga yang
bersaing (Competitive price).
2) Pengendalian Produksi (Production Control)
Tujuanya adalah agar proses produksi (proses pelaksanaan ban berjalan)
bisa lancar, cepat dan jumlahnya sesuai dengan rencana pencapaian
target.
3) Pengendalian Standar Spesifikasi produk
Meliputi aspek kesesuaian, keindahan, kenyamanan dipakai dsb, yaitu
aspek-aspek fisik dari produk.
4) Pengendalian waktu penyerahan produk (delivery control)
Penyerahan barang terkait dengan pengaturan.

Jenis jenis quality control di garmen


a) Piece Goods Quality Control/pemeriksaan bahan baku.

 Adanya inspector pada saat staffing (bongkar muat).
 Melakukan pengecekan sejumlah 10% kain dari total kain yang
diterima.
 Melakukan dan mengevaluasi adanya fabric defect/ cacat kain.
 Melakukan perbaikan apabila diperlukan.

b) Cutting Departemen Quality Control


 Melakukan persiapan terhadap kebutuhan man power.
 Mempunyai sistim pengecekan pada
setiap step proses cutting (Misalnya pada proses: marker, spreading,
cutting dan cutting pieces/komponen).
 Mempunyai sistim perbaikan apabila diperlukan.

In process Quality Control



 Melakukan persiapan terhadap manpower, alat yang diperlukan
mempunyai tempat dengan penerangan yang baik sebagai tempat
pengecekan.
 Mempunyai sistem sampling plan.
 Mempunyai prosedur dalam menangan
masalah rejection dalam bundeling sistim.
 Mempunyai sistim audit minimum per hari untuk
setiap operator. Untuk operator baru pengecekan minimum 3 x per hari
 Mempunyai sistim audit untuk setiap tahapan proses.
 Mempunyai sistim inspect untuk setiap bundle, dengan cara diambil 7
pcs per bundle dan akan dinyatakan reject apabila ditemukan 1 pcs.
 Mempunyai sistim kontinyu audit untuk operator yang mempunyai
masalah.
 Mempunyai sistim menyimpanan record untuk operator bermasalah.

0 komentar:

Post a Comment