Penilaian Terapan Rumus Lingkaran pada Kualitas Rok Lingkar Berdasarkan Sistem Bunka

Penilaian Terapan Rumus Lingkaran pada Kualitas Rok Lingkar Berdasarkan Sistem Bunka



pola rok lingkaran penuh - Suryawati
Abstrak
Rumus lingkaran merupakan konsep dalam mengembangkan bentuk rok lingkar, dimana kita dapat membentuk rok lingkar berdasarkan bilangan pecahan yang kita inginkan sesuai rumus lingkaran. Rok lingkar yang ada, umumnya mengacu pada bentuk setengah atau lingkaran penuh, dengan rumus lingkaran, kita dapat memperoleh bentuk rok lingkar ¼, ¾, 4/6, dan bentuk rok lingkar lainnya. Penelitian dilakukan untuk menilai kualitas rok lingkar dengan menerapkan rumus lingkaran berdasarkan sistem Bunka dengan membuat bentuk rok lingkar 2/6, 4/6 dan 5/6.Penelitian ini menggunakan metode penelitian eksperimen. Penilaian dilakukan dengan cara melihat hasil tampilan rok lingkar yang dikenakan pada boneka pass pop melalui lembar penilaian observasi yang dinilai oleh 5 panelis ahli dibidang konstruksi pola busana. Analisis dilakukan secara deskriptif dengan tabulasi prosentasi.Berdasarkan analisis penilaian panelis terhadap hasil rok lingkar, rok 2/6 lingkar memiliki hasil yang lebih baik dibandingkan rok 4/6 dan 5/6 lingkar, dan dapat menjadi pilihan untuk wanita bertubuh gemuk, break point flare pada rok 2/6 lingkar berada sedikit diatas panggul, bagian pinggang terlihat sedikit flat dan gelombang (flare) yang dihasilkan tidak terlalu besar. Adapun kekurangan pada hasil pengembangan rok lingkar ini yaitu pada tengah belakang yang merupakan sambungan risleting memiliki serat yang berbeda antara kanan dan kirinya sehingga mempengaruhi tampilan gelombang yang dihasilkan dan terdapat kerutan halus pada sambungan belakang.

Kata kunci : rumus lingkaran, rok lingkar, sistem Bunka





TUGAS KEPERAWATAN ANAK
“ PENGKAJIAN FISIK“



OLEH : KELOMPOK II
DEMILA SYUKRINA            0810321002
VICKY TRESNIA                 0810321006
SISKA YULANDARI             0810322015
EGA PAMESA                 0810322019
MUSTIKA DWI AGUSTIN             0810322020
INTAN PUTRI                 0810322021
NADIA                     0810322020
HIDAYATUL HASNI             0810322028
ANDINA ARIESTA PUTRI             0810322030
YUDYA ANDERSON             0810322033


PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
TAHUN AJARAN 2009/2010
KATA PENGANTAR

    Puji dan syukur marilah kita ucapkan kehadirat Allah Swt. Sehingga makalah ini dapat diselesaikan , dimana berkat rahmat dan karunianyalah makalah ini dapat terselesaikan dengan tepat waktu.Tak lupa shalawat beriring salam mari lah kiat hadiah kan kepada Nabi Besar kita yakninya Nabi besar Muhamad Saw.
    Dunia anak-anak merupakan hal yang sangat menarik untuk diteliti. Dimana orang tua pasti akan menginginkan anaknya lebih sukses dibandingkan oleh dirinya sendiri.Setiap tumbuh kembang sang anak akan selalu dipantau agar sang anak mendapatkan semua kebutuhan yang diinginkannya tanpa ada satupun kekurangan.Dalam makalah ini , penulis akan membantu orang tua maupun pembaca untuk mengetahui tentang pengkajian fisik dan perkembangan anak seperti : menyiapkan anak untuk pemeriksaan fisik berdasarkan kebutuhan perkembangannya, melakukan pemeriksaan fisik yang konprehensif , mengenali temuan normal yang mungkin untuk anak pada berbagai usia , mencatat pemeriksaan fisik berdasarkan format kepala sampai kaki , melakukan pengkajian perkembangan dengan menggunakan standar tes skrining.Kenapa perlu diadakan pemeriksaan fisik terhadap bayi  dan  anak, agar orang tua tau perkembangan sang anak.
    Pemeriksaan fisik dapat dilakukkan setiap saat unutk memantau perkembanga anak namun dal perjalananya perlu ada persiapan yang matang baik itu oleh orang tua maupun dari tenaga medis yang akan melakukan pemeriksaan fisik anak.Pemeriksaan fisik dapat dilakukan dengan bantuan tenaga medis seperti perawat dan dokter.
   
     



DAFTAR ISI
KATA PENGATAR ……………………………………………………………………………………………………………..………1
DAFTAR ISI ……………………………………………………………………………………………………………………...……...2
BAB I (PENDAHULUAN)
1.1     LATARBELAKANG MASALAH    ……………………………………………………………………..………..3
1.2     PERMASALAHAN ……………………………………………………………………………………….……………..3-4
1.3    TUJUAN …………………………………………………………………………………………………….…………….4-5
1.4    METODE …………………………………………………………………………………………………..………………5
BAB II (PEMBAHASAN)
2.1    PENDEKATAN UMUM DALAM MEMERIKSA ANAK
2.2    PEMERIKSAAN FISIK
2.3    PENGKAJIAN PADA PENAMPILAN UMUM
2.4   PENGKAJIAN PADA:
1.    KULIT (STRUKTUR ASSESORIUS)
2.    KELENJAR LIMPE
3.    KEPALA LEHER DAN MATA
4.    TELINGA
5.     HIDUNG
6.    MULUT DAN TENGGOROKAN
7.    DADA
8.    PARU
9.    JANTUNG
10.    ABDOMEN
11.    GENETALIA
12.    ANUS
13.    PUNGGUNG DAN EKSTREMITAS
14.    NEUROLOGIS
2.5    PENGKAJIAN PERKEMABANGAN DENVER II (PRA SKRENING , SKRENING , INTERPRETASI)

BAB III (PENUTUP)
3.1    KESIMPULAN……………………………………………………………..
3.2    SARAN………………………………………………………………….….
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………………..

pola dasar rok payung
BAB I
PENDAHULUAN
1.1    LATARBELAKANG MASALAH
Dunia anak-anak merupakan hal yang sangat menarik untuk diteliti. Dimana orang tua pasti akan menginginkan anaknya lebih sukses dibandingkan oleh dirinya sendiri.Setiap tumbuh kembang sang anak akan selalu dipantau agar sang anak mendapatkan semua kebutuhan yang diinginkannya tanpa ada satupun kekurangan.Dalam makalah ini , penulis akan membantu orang tua maupun pembaca untuk mengetahui tentang pengkajian fisik dan perkembangan anak seperti : menyiapkan anak untuk pemeriksaan fisik berdasarkan kebutuhan perkembangannya, melakukan pemeriksaan fisik yang konprehensif , mengenali temuan normal yang mungkin untuk anak pada berbagai usia , mencatat pemeriksaan fisik berdasarkan format kepala sampai kaki , melakukan pengkajian perkembangan dengan menggunakan standar tes skrining.Kenapa perlu diadakan pemeriksaan fisik terhadap bayi  dan  anak, agar orang tua tau perkembangan sang anak. Pemeriksaan fisik dapat dilakukkan setiap saat untuk memantau perkembanga anak namun dal perjalananya perlu ada persiapan yang matang baik itu oleh orang tua maupun dari tenaga medis yang akan melakukan pemeriksaan fisik anak.Pemeriksaan fisik dapat dilakukan dengan bantuan tenaga medis seperti perawat dan dokter.
1.2    PERMASALAHAN
•    Menjelaskan dengan tepat tentang Pendekatan umum dalam memeriksa anak : urutan pemeriksaan , persiapan anak.
•    Menjelaskan tentang pemeriksaan fisik : pengukuran pertumbuhan ( panjang , tinggi , berat badan , ketebalan lipatan kulit , lingkar lengan , lingkar kepala ), pengukuran fisiologis (suhu , nadi , pernafasan , TD)
•    Menjelaskan tentang pengkajian penampilan umum
•    Menjelaskan dengan tepat tentang pengkajian pada kulit , kelenjar limfe , kepala leher , dan mata , telinga , hidung , mulut dan tenggorokan , dada , paru ,  jantung , abdomen , genetalia , Anus , punggung dan ekstremitas , dan pengkajian pada neurologis .
•    Menjelaskan dengan tepat tentang pengkajian perkembangan Denver II (pra skrening , skrening , interpretasi )
1.3TUJUAN
Tujuan Umum
•    Bisa dan mampu untuk melakukan pengkajian fisik pada anak.
Tujuan Khusus
•    Menjelaskan dengan tepat tentang Pendekatan umum dalam memeriksa anak : urutan pemeriksaan , persiapan anak.
•    Menjelaskan tentang pemeriksaan fisik : pengukuran pertumbuhan ( panjang , tinggi , berat badan , ketebalan lipatan kulit , lingkar lengan , lingkar kepala ), pengukuran fisiologis (suhu , nadi , pernafasan , TD)
•    Menjelaskan tentang pengkajian penampilan umum
•    Menjelaskan dengan tepat tentang pengkajian pada kulit , kelenjar limfe , kepala leher , dan mata , telinga , hidung , mulut dan tenggorokan , dada , paru ,  jantung , abdomen , genetalia , Anus , punggung dan ekstremitas , dan pengkajian pada neurologis .
•    Menjelaskan dengan tepat tentang pengkajian perkembangan Denver II (pra skrening , skrening , interpretasi )
1.4METODE
Tutorial , Diskusi , penugasan , Skill lap.


BAB II
PEMBAHASAN
2.1    PENDEKATAN UMUM DALAM MEMERIKSA ANAK
URUTAN UMUM:
    Biasanya , urutan pemeriksaan pasien mengikuti arah dari kepala hingga kaki . Fungsi utama pendekatan ini adalah memberikan pedoman umum dalam mengkaji setiap daerah tubuh untuk meminimalkan adanya bagian yang terlewatkan dari pemeriksaan.Dalam memeriksa anak , urutan teratur ini sering kali berubah untuk mengakomodasi kebutuhan perkembangan anak, walaupun pemeriksaan dicatat dengan mengikuti model kepala sampai kaki.
PERSIAPAN ANAK
    Anak biasanya bekerjasama sangat baik ketika orang tuanya tetap bersama mereka.namun terkadang anak malah merasa risih apabila melakukan suatu pemeriksaan apabila ditemani oleh sesorang seprti pemeriksaan genetalia.Merangkum pedoman posisi .persipan dan pemeriksaan anak pada berbagai usia . bahkan saat pendekatan terbaik digunakan , banyak todler tidak mau bekerja sama dan tidak merasa nyaman terhadap banyaknya pemeriksaan fisik.
2.2    PEMERIKSAAN FISIK
 PENGUKURAN PERTUMBUHAN
•    1). Tinggi badan/panjang badan
a. Panjang badan digunakan pada anak dibawah 36 bulan: tempatkan anak telentang dengan kepala digaris tengah, pegang lutut dan dorong dengan perlahan kearah meja agar kaki ekstensi penuh, ukur panjang badan anak dari verteks (puncak) kepala sampai tumit kaki (jari kaki mengarah keatas).
b. Tinggi badan digunakan untuk anak diatas 36 bulan: pengukuran dilakukan dengan berdiri, lepaskan kaus kaki dan sepatu, minta anak berdiri tegak, punggung tegak, kepala digaris tengah, mata melihat lurus kedepan, ukur dari puncak kepala sampai permukaan berdiri.
2). Berat badan
a. Timbang bayi dan anak kecil telanjang diatas skala tipe platform, lindung bayi dengan menempatkan tangan diatas tubuh untuk mencegah jatuh.
b. Timbang anak yang lebih besar dengan memakai pakaian dalam, tanpa sepatu pada timbangan tegak.
c. Periksa skala timbangan sebelum digunakan.
d. Beri alas kain pada timbangan tipe platform.
3). Lingkar kepala
a. Ukur dengan kertas atau pita tembaga dari puncak alis mata dan pinna telinga ketonjolan oksipital tengkorak
b. Pada saat lahir lingkar kepala melebihi lingkar dada 2-3 cm
c. Pada 1-2 tahun, limgkar kepla sama dengan lingkar dada
d. Selama masa anak-anak, lingkar dada melebihi lingkar kepala kira-kira 5-7 cm.
4). Lingkar dada
a. Lingkar dada diukur menggunakan midline melingkari dada pada garis puting susu.
b. Lakukan pengukuran selama masa inspirasi dan ekspirasi.
5). Lingkar lengan
a. Pengukuran lingkar lengan pada lengan kanan fleksi 900 pada siku, tandai titik tengahnya
PENGUKURAN FISOLOGIS
1). Suhu
a. Suhu oral: Letakkan dibawah lidah didalam kantong sublingual posterior kanan tau kiri, bukan didepan lidah, minta anak untuk tetap mengatupkan mulutnya tanpa mengigit termometer.
b. Suhu aksila: tempatkan termometer dibawah lengan dengan ujungnya dibagian tengan aksila dan dekatkan dengan kulit, tahan tangan anak untuk mejepitnya
c. Suhu rektal: Masukkan ujung termometer yang telah diberi pelumas tidak lebih dari 2,5 cm kedalam rektum, pegang termometer dengan hati-hati didekat anus
- cara membuat pola rok lebar
2). Nadi
a. Ukur nadi apikal pada anak dibawah 2-3 tahun
b. Titik intensitas maksimum terletak di bagian lateral sampai puting susu pada ruang intercosta keempatsampai kelima pada garis midklavikula
c. Ukur nadi radialis pada anakusia lebih dari 2-3 tahun
d. Hitung nadi selam satu enit penuh
e. Tingkatan nadi:
• Tingkat 0 : tidak dapat diraba
• Tingkat +1 : sulit untuk diraba, lemah, halus, mudah lenyap dengan tekanan
• Tingkat +2 : sulit diraba, dpat lenyap dengan tekanan
• Tingkat +3 : mudah diraba, tidak mudah hilang dengan tekanan (normal)
• Tingkat +4 : kuat, berdenyut, tidak hilang dengen tekanan.
3). Pernapasan
Observasi frekuensi pernapasan selama satu menit penuh. Observasi adanya gerakan abdomen pada bayi, dan obeservasi adanya gerakan thoraks pada anak yang lebih besar
4). Tekanan darah
Gunakan ukuran manset dan stetoskop yang tepat. Ukuran manset mengacu pada kantong bagian dalam yang dapat dikembungkan. Daerah yang dapat digunakan untuk mengukur tekanan darah apda anak yaitu Lengan atas ( arteri brakhialis, lengan bawah atau lengan depan ( arteri radialis), paha (arteri poplitea), tungkai atau dorsalis pedis (arteri dorsalis pedis).
2.3    PENGKAJIAN PADA PENAMPILAN UMUM
Penampilan umum anak adalah kesan subjektif dan kumulatif penampilan fisik anak , status nutrisi , perilaku , kepribadian , interaksi dengan orang tua dan perawat , potur tubuh , perkembangan dan cara bicara.Perhatikan mimic wajah , postur dan posisi tubuh pergerakan tubuh , hygiene , nutrisi,  perilaku, mental ,  perkembangan. 


A.    PENGKAJIAN PADA KULIT
Hal-hal yang dikaji pada pemeriksaan kulit:
Warna normal pada anak berkulit putih bervariasidari putih susu dan kemerah-merahan sampai warna merah. Anak berkulit gelap, seperti penduduk asli Amerika, Hispanik, atau keturunan kulit hitam, mewarisi berbagai warna cokelat, merah, kuning, hijau muda, dan kebiru-biruan pada kulit mereka. Orang dari oriental memiliki kulit yang secara normal berwarna kekuning-kuningan.
Tekstur kulit anak yang masih kecil, secara normal sangat halus, agak kering, dan tidak berminyak atau lembab.
Suhu kulit dievaluasi dengan merasakan setiap bagian tubuh secara simetris dan membandingkan bagian tubuh atas dengan bagian bawah. Catat adanya perbedaan suhu
Turgor jaringan atau tingkat elastisitas kulit dinilai dengan cara menarik kulit abdomen antara telunjuk dan ibu jari, menariknya menjadi satu, dan lepaskan dengan cepat. Jaringan yang elastic dengan cepat kembali pada posisi normal tanpa adanya bekas atau kerutan sisa. Turgor kulit merupakan salah satu cara terbaik untuk memperkirakan hidrasi dan nutrisi yang adekuat.
Struktur Asesorius
Asesorius yang dikaji pada kulit yaitu:
Rambut. Pada kepala anak biasanya berkilau, halus, kuat, dan elastic. Factor genetic mempengaruhi penampilan rambut. Rambut yang tipis, kusam, mudah patah, mudah pecah-pecah, dan mengalami depigmentasi dapat menandakan nutrisi yang kurang baik. Hilangnya rambut pada bayi dapat mengindikasikan bahwa bayi tersebut selalu berbaring pada posisi yang sama dan dapat dijadikan petunjuk untuk memberikan konseliing pada orangtua tentang kebutuhan stimulasi bagi anak. Pada anak yang mendekati masa pubertas, perhatikan pertumbuhan rambut sejunder yang terlalu cepat atau terlalu lambat, karena dapat menunjukkan adanya disfungsional hormonal, matang terlalu dini, atau matang yang terlalu lambat.
Kuku. Secara normal berwarna merah muda, konveks, halus, dank eras tetapi fleksibel (tidak mudah patah). Ujungnya biasanya berwarna putih harus meluas di atas jari. Kulit yang pendek dan berujung tidak rata merupakan cirri khas kebiasaan menggigit kuku. Kuku yang tidak dipotong dan kotor merupakan tanda-tanda hygiene yang buruk.
Dermatoglipik (garis tangan dan kaki). Unik untuk setiap individu. Telapak tangan secara normal menunjukkan tiga buah lengkungan garis tangan. Pada beberapa situasi seperti Sindrom Down, dua garis tangan yang horizontal distal, bersatu membentuk suatu garis horizontal/ garis transpalmar.
B.    PENGKAJIAN PADA KELENJAR LIMFE
Palpasi kelenjar dengan menggunakan bagian distal jari secara lembut namun tegas, tekan dengan gerakan melingkar sepanjang letak normal kelenjar tersebut. Selama pengkajian kelenjar di kepala dan leher, angkat kepala anak sedikit ke atas  tetapi tanpa meregangkan otot sternokleidomastoideus atau trapezius. Catat ukuran, mobilitas, suhu, dan nyeri tekan, juga laporan orangtua tentang adanya perubahan yang dapat dilihat dari pembesaran kelenjar. Pada anak, kelenjar yang kecil, tidak nyeri, dan hangat biasanya normal. Kelenjar limfe yang terasa nyeri, membesar, dan dapat digerakkan biasanya menandakan infeksi atau inflamasi yang dekat dengan lokasi kelenjar tersebut.
C.    PENGKAJIAN PADA KEPALA, LEHER DAN MATA
Pada kepala dan leher, hal-hal yang perlu dikaji yaitu:
Bentuk dan simetris kepala. Adanya pendataran pada satu sisi kepala dapat mengindikasikan bahwa anak terus menerus berbaring pada posisi yang sama. Tanda asimetris biasanya abnormal dan dapat mengindikasikan kraniosinostosis.
Kontrol kepala dan postur kepala. Bayi yang berusia 4 bulan harus mampu menahan kepala pada saat diangkat dan di garis tengah ketika berada pada posisi vertical.
Rentang gerak. Yaitu dengan meminta anak untuk melihat ke setiap arah. Keterbatasan rentang gerak dapat mengindikasikan adanya wryneck atau tortikolis.
Tulang tengkorak. Di palpasi untuk mengetahui kepatenan sutura, ubun-ubun, fraktur, dan pembengkakan. Normalnya, ubun-ubun belakang menutup pada bulan kedua kehidupan, dan ubun-ubun kecil menyatu antara usia12-18 bulan.
Wajah. Hal yang diobservasi yaitu kesimetrisan, pergerakan, dan penampilan umum, dengan cara meminta anak untuk mengekspresikan wajahnya.
Leher. Dengan menginspeksi ukuran leher dan palpasi leher untuk mengetahui struktur yang berhubungan. Leher normalnya pendek, dan bertambah panjang selama 3 3 sampai 4 tahun berikutnya.
Inspeksi Struktur Eksternal
Hal-hal yang dikaji yaitu:
Kelopak mata. Inspeksi penempatan yang tepat pada mata. Ketika mata terbuka, kelopak mata harus berada di dekat iris bagian atas dan ketika tertutup harus menutupi kornea dan sclera sepenuhnya. Selain itu tentukan lengkungan kelopak mata (fisura palpebra). Normalnya terletak horizontal. Namun p ada orang oriental lengkungan tersebut normalnya ke atas. Bagian dalam kelopak mata (konjungtiva) normalnya terlihat merah muda dan mengkilap. Pada lubang lakrimal, catat adanya air mata yang berlebihan, keluaran, atau inflamasi.
Konjungtiva bulbar. Harus transparan.
Sclera. Harus jernih. Tanda kecil berwarna hitam pada sclera orang yang berpigmen sangat gelap adalah normal.
Kornea. Harus jernih dan transparan. Periksa kekeruhan dengan melakukan iluminasi bola mata dengan cara mengarahkan sinar dari sudut (secara menyerong).
Pupil. Harus berbentuk bundar, jernih, dan sama. Lakukan uji reaksi pupil terhadap cahaya dan respons akomodasi.
Iris. Warna iris yang permanen biasanya terbentuk pada usia 6-12 bulan.
Lensa mata. Secara normal, lensa mata tidak dapat dilihat melalui pupil.
Inspeksi Struktur Internal
Oftalmoskop memungkinkan visualisasi bagian dalam bola mata dengan sistem lensa dan cahaya intensitas tinggi. Perawat harus mempraktikkan penggantian kepala oftalmik dan otik. Perawat yang tidak secara langsung terlibat dalam pengkajian fisik sering bertanggung jawab untuk menjamin agar peralatan tersebut dapat berfungsi dengan baik.
Mempersiapkan anak. Dengan menunjukkan instrument pada anak, mendemonstrasikan sumber cahaya, cara kerja benda menyinari mata, dan alasan ruang pemeriksaan harus gelap. Lakukan distraksi untuk mendorong agar anak tetap membuka matanya.
Pemeriksaan funduskopi. Fundus dengan segera tampak sebagai reflex merah. Intensitas warna meningkat pada individu yang memiliki pigmen kulit berwarna gelap. Ketika oftalmoskop didekatkan pada mata, bagian fundus yang paling terlihat adalah diskus optikus, warnanya merah muda kekuning-kuningan (lebih terang) dan normalnya berbentuk bundar atau oval vertical. Selanjutnya pemeriksaan pembuluh darah, normalnya cabang arteri dan vena saling menyilang.
Uji Penglihatan
Kesegarisan ocular. Penting untuk mendeteksi penglihatan strabismus (mata juling) dimana mata mengalami deviasi dari titik fiksasi. Dapat terjadi kebutaan akibat tidak digunakan ayng dikenal sebagai ambliopia. Uji yang umum digunakan yaitu uji reflex cahaya kornea dan uji tutup mata.
-    Uji reflex cahaya kornea (Uji Hirschberg)
Dengan menyorotkan lampu senter atau cahaya dari oftalmoskop langsung ke arah mata pasien dari jarak sekitar 40,5 cm. pada mata normal, cahaya akan jatuh secara simetris pada setiap pupil.
-    Uji tutup mata
Salah satu mata ditutup, dan pergerakan mata yang terbuka diobservasi ketika anak melihat suatu benda pada jarak dekat dan jauh. Mata tidak segaris jika mata yang terbuka bergerak karena ketika mata yang lebih kuat ditutup sementara, mata yang tidak segaris akan berusaha untuk memfiksasi objek tersebut.
Uji ketajaman penglihatan pada anak setelah masa bayi. Uji yang paling umum digunakan adalah Snellen chart, yang terdiri atas deretan huruf dengan ukuran yang semakin kecil. Pada bayi yang baru lahir, penglihatan di uji terutama dengan pemeriksaan persepsi cahaya dengan menyorotkan sinar kea rah mata dan mencatat respon seperti konstriksi pupil, berkedip, mengikuti cahaya pada garis tengah, peningkatan kewaspadaan, dan lain-lain.
Penglihatan perifer. Atau lapang pandang setiap mata. Dengan meminta anak untuk memusatkan pandangan pada satu titik tertentiu secaralangsung di depan mereka sebagai suatu objek.
Penglihatan warna. Dua tipe gangguan persepsi warna yang paling umum adalah protanomali (anak bing8ung membedakan warna abu-abu dengan warna merah muda atau biru pucat dengan hijau), dan deuteranomali (anak bingung membedakan warna abu-abu dengan ungu pucat atau hijau). Uji yang tersedia yaitu uji ishihara dan uji hardy-rand-rittler (HHR).

Kepala
raba sepanjang garis sutura dan fontanel ,apakah ukuran dan tampilannya normal. Sutura yang berjarak lebar mengindikasikan bayi preterm,moulding yang buruk atau hidrosefalus. Pada kelahiran spontan letak kepala, sering terlihat tulang kepala tumpang tindih yang disebut moulding/moulase.Keadaan ini normal kembali setelah beberapa hari sehingga ubun-ubun mudah diraba. Perhatikan ukuran dan ketegangannya. Fontanel anterior harus diraba, fontanel yang besar dapat terjadi akibat prematuritas atau hidrosefalus, sedangkan yang terlalu kecil terjadi pada mikrosefali. Jika fontanel menonjol, hal ini diakibatkan peningkatan tekanan intakranial, sedangkan yang cekung dapat tejadi akibat deidrasi. Terkadang teraba fontanel ketiga antara fontanel anterior dan posterior, hal ini terjadi karena adanya trisomi 21
•    Periksa adanya tauma kelahiran misalnya; caput suksedaneum, sefal hematoma, perdarahan subaponeurotik/fraktur tulang tengkorak
•    Perhatikan adanya kelainan kongenital seperti ; anensefali, mikrosefali, kraniotabes dan
wajah
wajah harus tampak simetris. Terkadang wajah bayi tampak asimetris hal ini dikarenakan posisi bayi di intrauteri.Perhatikan kelainan wajah yang khas seperti sindrom down atau sindrom piere robin. Perhatikan juga kelainan wajah akibat trauma lahir seperti laserasi, paresi N.fasialis.
Mata
Goyangkan kepala bayi secara perlahan-lahan supaya mata bayi terbuka.
Periksa jumlah, posisi atau letak mata
Perksa adanya strabismus yaitu koordinasi mata yang belum sempurna
Periksa adanya glaukoma kongenital, mulanya akan tampak sebagai pembesaran kemudian sebagai kekeruhan pada kornea
Katarak kongenital akan mudah terlihat yaitu pupil berwarna putih. Pupil harus tampak bulat. Terkadang ditemukan bentuk seperti lubang kunci (kolobama) yang dapat mengindikasikan adanya defek retina
Periksa adanya trauma seperti palpebra, perdarahan konjungtiva atau retina
Periksa adanya sekret pada mata, konjungtivitis oleh kuman gonokokus dapat menjadi panoftalmia dan menyebabkan kebutaan
Apabila ditemukan epichantus melebar kemungkinan bayi mengalami sindrom down
Hidung
Kaji bentuk dan lebar hidung, pada bayi cukup bulan lebarnya harus lebih dari 2,5 cm.
Bayi harus bernapas dengan hidung, jika melalui mulut harus diperhatikan kemungkinan ada obstruksi jalan napas akarena atresia koana bilateral, fraktur tulang hidung atau ensefalokel yang menonjol ke nasofaring
Periksa adanya sekret yang mukopurulen yang terkadang berdarah , hal ini kemungkinan adanya sifilis kongenital
Perksa adanya pernapasa cuping hidung, jika cuping hidung mengembang menunjukkan adanya gangguan pernapasan

Mulut
Perhatikan mulut bayi, bibir harus berbentuk dan simetris. Ketidaksimetrisan bibir menunjukkan adanya palsi wajah. Mulut yang kecil menunjukkan mikrognatia
Periksa adanya bibir sumbing, adanya gigi atau ranula (kista lunak yang berasal dari dasar mulut)
Periksa keutuhan langit-langit, terutama pada persambungan antara palatum keras dan lunak
Perhatika adanya bercak putih pada gusi atau palatum yang biasanya terjadi akibatvEpistein’s pearl atau gigi
Periksa lidah apakah membesar atau sering bergerak. Bayi dengan edema otak atau tekananintrakranial meninggi seringkali lidahnya keluar masuk (tanda foote)
Telinga
Periksa dan pastikan jumlah, bentuk dan posisinya
Pada bayi cukup bulan, tulang rawan sudah matang
Dauntelinga harus berbentuk sempurna dengan lengkungan yang jelas dibagia atas
Perhatikan letak daun telinga. Daun telinga yang letaknya rendah (low set ears) terdapat pada bayi yangmengalami sindrom tertentu (Pierre-robin)
Perhatikan adanya kulit tambahan atau aurikel hal ini dapat berhubungan dengan abnormalitas ginjal
Leher
Leher bayibiasanya pendek dan harus diperiksa kesimetrisannya. Pergerakannya harus baik. Jika terdapat keterbatasan pergerakan kemungkinan ada kelainan tulang leher
Periksa adanya trauma leher yang dapat menyebabkan kerusakan pad fleksus brakhialis
Lakukan perabaan untuk mengidentifikasi adanya pembengkakan.periksa adanya pembesaran kelenjar tyroid dan vena jugularis
Adanya lipata kulit yang berlebihan di bagian belakang leher menunjukkan adanya kemungkinan trisomi 21.
Klavikula
Raba seluruh klavikula untuk memastikan keutuhannya terutama pada bayi yang lahir dengan presentasi bokong atau distosia bahu. Periksa kemungkinan adanya fraktur
Tangan
Kedua lengan harus sama panjang, periksa dengan cara meluruskan kedua lengan ke bawah
Kedua lengan harus bebas bergerak, jika gerakan kurang kemungkinan adanya kerusakan neurologis atau fraktur
Periksa jumlah jari. Perhatikan adanya polidaktili atau sidaktili
Telapak tangan harus dapat terbuka, garis tangan yang hanya satu buah berkaitan dengan abnormaltas kromosom, seperti trisomi 21
Periksa adanya paronisia pada kuku yang dapat terinfeksi atau tercabut sehingga menimbulkan luka dan perdarahan
Dada
Periksa kesimetrisan gerakan dada saat bernapas. Apabila tidak simetris kemungkinan bayi mengalami pneumotoraks, paresis diafragma atau hernia diafragmatika. Pernapasan yang normal dinding dada dan abdomen bergerak secara bersamaan.Tarikan sternum atau interkostal pada saat bernapas perlu diperhatikan
Pada bayi cukup bulan, puting susu sudah terbentuk dengan baik dan tampak simetris
Payudara dapat tampak membesar tetapi ini normal
Abdomen
Abdomen harus tampak bulat dan bergerak secara bersamaan dengan gerakan dada saat bernapas. Kaji adanya pembengkakan
Jika perut sangat cekung kemungkinan terdapat hernia diafragmatika
Abdomen yang membuncit kemungkinan karena hepato-splenomegali atau tumor lainnya
Jika perut kembung kemungkinan adanya enterokolitis vesikalis, omfalokel atau ductus omfaloentriskus persisten
Genetalia
Pada bayi laki-laki panjang penis 3-4 cm dan lebar 1-1,3 cm.Periksa posisi lubang uretra. Prepusium tidak boleh ditarik karena akan menyebabkan fimosis
Periksa adanya hipospadia dan epispadia
Skrortum harus dipalpasi untuk memastikan jumlah testis ada dua
Pada bayi perempuan cukup bulan labia mayora menutupi labia minora
Lubang uretra terpisah dengan lubang vagina
Terkadang tampak adanya sekret yang berdarah dari vagina, hal ini disebabkan oleh pengaruh hormon ibu (withdrawl bedding)
            - cara menjahit rok setengah lingkaran
Anus dan rectum
Periksa adanya kelainan atresia ani , kaji posisinya
Mekonium secara umum keluar pada 24 jam pertama, jika sampai 48 jam belumkeluar kemungkinan adanya mekonium plug syndrom, megakolon atau obstruksi saluran pencernaan
Tungkai
Periksa kesimetrisan tungkai dan kaki. Periksa panjang kedua kaki dengan meluruskan keduanya dan bandingkan
Kedua tungkai harus dapat bergerak bebas. Kuraknya gerakan berkaitan dengan adanya trauma, misalnya fraktur, kerusakan neurologis.
Periksa adanya polidaktili atau sidaktili padajari kaki
Spinal
Periksa psina dengan cara menelungkupkan bayi, cari adanya tanda-tanda abnormalitas seperti spina bifida, pembengkakan, lesung atau bercak kecil berambut yang dapat menunjukkan adanya abdormalitas medula spinalis atau kolumna vertebra
Kulit
Perhatikan kondisi kuli bayi.
Periksa adanya ruam dan bercak atau tanda lahir
Periksa adanya pembekakan
Perhatinan adanya vernik kaseosa
Perhatikan adanya lanugo, jumlah yang banyak terdapat pada bayi kurang bulan
Paru
Paru terletak dalam rongga toraks, setiap paru terbagi menjadi satu apeks, yang agak meruncing dan agak tinggi dari iga pertama basal paru, yang lebar dan cembung serta menempel pad diafragma yang berbentuk lengkungan setengah lingkaran dan lous paru yang dibagi ke dalam lous-lobus. Paru kanan terdiri atstig lbus, atas, tengah, dan bawah, paru kiri hanya memiliki dua lobus, atas dan bawah karena ruangnya diisi oleh jantung
Evaluasi kecepatan (jumlah per menit) irama (teratur, tidak teratur atau periodik),  kedalaman (dalam atau dangkal) dan  kualitas pernapasan ( tanpa usaha otomatis sulit atau dengan usaha) perhatikan karakter bunyi nafas, seperti suara berisik, suara yang rendah dan kasar, mendengkur atau berat.
- cara membuat pola rok klok
Auskultasi
Auskultasi  melibatkan penggunaan stetoskop untuk mengebaluasi suaranapas, pada paru suara napas diklasifikasikan sebagi vesikula, bronkoverikular atau bronkial
Cairan, udara atau massa padat pada rongga pleural dapat menggangu kondisi suara naps, berbagai abnormalitas pulmonal  menghasilkan suara napas tambahan. Suara napas tambahan diklasifikasikan ke dalam dua kelompok besar yaitu ronki basah, yang diakibatkan oleh aliran udara melalui cairan atau bagian yang lembab, dan mengi, yang dihasilkan dari aliran udara melalaui jalan napas yang menyempit, tanpa memperhatikan penyebabnya seperti  eksudat, inflamasim, spasme atau tumor.

Jantung
Jantung teletak dalam rongga toraks di antara paru pad mediastinum dn di ats diafragma.sekitar dua per tiga bagian jantung terletak di dalam sisi kiri  rongga dada, dengan satu per tiga bagian pad bagian kanan melewati sternum
Inspeksi paling baik dilakukan pada  anak yang duduk dalam posisi semi fowler., secara normal keduanya harus tampak simetris. Lakukan palpasi untuk menentukan lokasi impuls apical
Auskultasi
Asal bunyi jantung. Dihasilkan dari pembukaan dan penutupan kutup dn vibrasi darah pad dinding  jantung dan pembuluh darah, normalnya dua  bunyi S1 dn S2 dapat terdengar yang secara berurutan berhubungan dengan suara “lub-lub”. Pembagian fisiologis adalah hasil temuan normal yang signifikan
Dua bunyi jantung yang lain S3 dan S4 dapat dihasilkan S3 secara normal terdengar pada beberapa anak S4 jarang tedenganr sebagai bunyi jantungnormal. Biasanya mengindikasikan perlunya evaluasi jantung lebih lanjut
Ketagori penting lain bunyi jantung adalh mur-mur, buyi yang dihasilkan oleh vibrasi di dalam bilik jantung atau dalam arteri besar dari aliran bolak-balik darah.
Membedakan bunyi jantung normal. Secara normal S1  lebih kuat terdengarn  dibagian apeks jantung pada area mitral dan trikuspidalis, dan S2  lebih kuat terdengar dekat dengan bagian basis jantung pada area pulmonal dan aorta
Evaluasi bunyi jantung terkait dengan kualitas, intensitas, frekuensi, irama. Sinus aritmia, yaitu frekuensi jantung meningkat dengan infpirsi dan menurun dengan ekspirasi

Abdomen
Pemeriksaan abdomen meliputi enspeksi, diikuti dengan auskultasi, kemudian palpsi. Untuk tujuan deskriptif rongga abdomen dibagi menjadi empat kuadran dengan cara menggambar garis vertiak pada bagian tengah di ssternmun sampai simfisis pubis dn garis horizontal melalui abdomen ke umbilicus, setiap daerah dinamai sebagai berikut 
    Kuadran kiri atas
    Kuadran kiri bawah
    Kuatran kanan atas
    Kuadran kiri bawah
- pola rok kembang payung

1.    Inspeksi
Inspeksi kontur abdomen dengan anak pada posisi tegak dan telentang, normalnya abdomen bayi dan akan yang masih kecil cukup silindris dan dalam  posisi tegak, agak menonjol karena lordosis fisiologis spinal
Kulit yang menutupi abdomen harus terikat secara seragam tanpa adanya kerutan atau lipatan. Observasi pergerakan abdomen. Normalnya pergerakan dada dan abdomen sinkron, pada bayi dan anak yang kurus. Gelombang peristaltis dapat dilihat melalui dinging abdomen, gerakan tersebut paling baik di observasi dengan berdiri sejajar mat dan di depan abdomen selalu.
Periksa ukuran, kebeishan dan adanya tanda-tanda abnormalitas umbilicus, seperti hernia, ummblilkis harus datar atau sedikit menonjol. Hernia umbilikasil umum terjadi pada bayi terutama pada anak kulit hitam
Hernia inguinalis merupakan tonjolan peritoneum melalui dingin abdomen dalam saluran inguinalis.
Hernia fenoralis. Dapat dirasakan atau terlihat sebagai massakecil pada bagian permukaan anterior paha tepat dibawah ligament inguinal dalam kanal fenoral. Jari manis terletak di atas kanal femoralis, tempat herniasi terjadi palpasi hernia dalam region pervis sering merupakan bagian dari pemeriksaan genitalia.
2.    Auskultasi
Temuan paling penting untuk didengarkan adalah peristalsis atau bising usus, yang bunyinya seperti logam pendek beradu dan seperti orang berkumur, frekuensinya per menit harus dicatata  (misalnya 5 kli/ menit)basing usus dapat distimulasi dengan cara mengetarkan permukaan abdomen dengan kuku  jari tangan.
3.    Palpasi
Dua tipe palpasi dilakukan superfisial dan dalam pada palpasi superfisial, perhatikan adanya area yang terasa nyeri, tous ott, dan lesi superfisial seperti kista
Palpasi dalam dimulai pada kuadran bawah dan terus ke atas untuk menghindari tidak terpapalasinya bagian tepi hati, atau limpa yang membesar. Hati normalnay hati turun selama inspirasi saat diafragma bergerak kebawah, jangan salah menginterprestasikan pergeseran letak ini sebagai tanda pembesaran hati
- tutorial menjahit rok lingkaran penuh
Genitalia
Pendekatan terbaik adalah memeriksa genitalia  secara biasa-biasa saja, tidak terlalu menekankan bagian pengkajian ini dari pada segmen yagn lain
1.    Genitalia pria
Catat penampilan eksterna glans dan bagian penis, prepusium meatus uretra, dan skrotum penis
Periksa glans penis (bagian kepala penis) dan batang penis. Apakah ada tanda-tanda pembengkakkan, lesi kulit, inflamasi, atau ketidakteraturan lain, lokasi meatus uretra diinspeski secara hati-hati dan apakah ada tanda-tanda keluaran normalnya meatus uretra terletak pada bagian tengah glans penis
Distribusi rambut . Normalnya sebelum pubertas tidak ada rambut pubis yang tumbuh. Skrotum juga diperhatikan normalnya ergantung lebih rendah dari pada yang kanan pada bayi scrota tampak besar dalam hubungan dengan  bagian genitalia yang lain
Testis dapat dirasakan sebagai badan ovoid kecil yang di panjangkan sekitar 1,5 sampai 2 cm satu dalam setiap kantong scrota, refleks kremasterik distimulasi oleh dingin, sentuhan, gairah emosional atau latihan 
2.    Genitalia perempuan
Terbatas pada inspeksi dan palpasi struktur eksterna. Pemeriksaan genitalia perempuan untuk mengetahuai ukuran dan lokasi struktur vulva atau pudendum.mons pubis adalh bantalan jaringan d adipose di atas simfisi pubis. Pola umum distribusi rambut genitaliapada perempuan adalah segitiga terbalik. Klitoris adalah organ erektil kecil yang teletak pada bagian ujung anteriuor labia minora klitoris ditutupi oleh sebuah lipatan kecil kulit yaitu prepusium
Labia mayora merupakan dua lipatan tebal kulit yang memanjang posterior dari mons pubis sampai komisura posterior vagian. Bagian internal labia mayora adalah dua lipatan kulit yang disebut labia minora. Meaturs ureta teletak di bagian posterior klitoris  dan dikelilingi oleh kelenjer dan duktus skene.
Orifisium vagina teletak pada bagian posterior meatus uretra. Sekitar lubang vagina bagian luar terdapat kelenjer bartholn yang mensekresikan cairan jernih mukoid ke dalam vagina untuk lubrikasi selam berhubungan  seksual palpasi  duktus apakah ada kista. Perhatikan juga rabas vagina yang biasanya berwarna jernih atau putih
- cara membuat pola rok kembang
ANUS
Perhatikan kepadatan bokong dan kesimetrisan lipatan gluteal. Kaji tonus sfinkter anal dengan merangsang reflex anal. Sentuhan perlahan pada area anal menyebabkan kontraksi cepat nyata dari sfinkter anal eksterna.
PUNGGUNG DAN EKSTREMITAS
Spina
Kelengkungan umum spina diperhatikan. Normalnya bagian punggung bayi baru lahir adalah bulat atau berbentuk huruf C dari lengkung toraks dan pelvic.
Kuevatura yang terlihat jelas adalah abnormal. Skoliosis, kurvatura spinal, merupakan masalah penting pada masa kanak-kanak, terutama pada anak perempuan. Walaupun skoliosis dapat diidentifikasi dengan mengobservasi dan mempalpasi spinal serta memerhatikan pergeseran kea rah samping, uji yang lebih ojektif meliputi:
•    Dengan anak pada posisi berdiri tegak, dan hanya mengenakan celana dalam, observasi dari arah belakang, perhatikan ketidaksimetrisan bahu dan pinggul.
•    Dengan anak membungkuk ke depan sehingga punggung parallel dengan lantai, observasi dari samping, perhatikan adanya ketidaksimetrisan atau tonjolan rsngks iga.

Berjalan sedikit pincang, bagian bawah lipatan rok/celana panjang miring, atau keluhan sakit punggung merupakan gejala lain dari skoliosis.

Inspeksi bagian punggung, terutama sepanjang spina, apakah ada kumpulan rambut, tahi lalat, atau pemucatan. Mobilitas kolumna vertebralis dapat dengan mudah dikaji pada sebagian besar anak karena cenderung melakukan gerakan yang konstan selama pemeriksaan.
Pergerakan spina servikal merupakan tanda diagnostic penting masalah neurologis, seperti meningitis. Normalnya, pergerakan kepala pada semua arah tanpa memerlukan upaya keras.

Ekstremitas
    Inspeksi kesimetrisan panjang dan ukuran masing-masing ekstremitas. Hitung jumlah jari tangan dan kaki untuk meyakinkan jumlahnya normal. Adanya jari tambahan (polidaktil) atau fusi jari (sindaktil) sering tidak terperhatikan.
    Inspeksi suhu dan warna lengan dan kaki, yang harus sama pada setiap ekstremitas, walaupun kaki normalnya lebih dingin daripada tangan.
    Kaji bentuk tulang. Beberapa variasi. Bowleg atau genu vernum, adalah melengkungnya tibia kea rah lateral. Hal ini secara klinis terlihat ketika anak berdiri dengan posisi maleoli medial (tonjolan bundar pada kedua sisi pergelangan kaki) berlawanan satu sama lain dan jarak diantara lutut lebih besar kira-kira 5 cm. knock-knee atau genu valgum, tampak berlawanan dengan bowleg. Pada genu verlum, lutut saling mendekat satu sama lain tetapi kaki terpisah jauh. Ditentukan secara klinis sama dengan bowleg. Knock-knee normalnya terjadi pada anak sekitar usia 2-7 tahun.
    Inspeksi kaki. Kaki bayi dan toddler tampak datar karena kaki normalnyalebar dan lengkungannya ditutupi oleh lapisan lemak. Perkembangan lengkungan terjadi secara alami dari kegiatan berjalan. Normalnya pada saat lahir kaki mengarah dalam posisi valgus (ke luar) atau varus (ke dalam).  Untuk menentukan apakah deformitas kaki pada saat lahir terjadi akibat posisi intrauterine atau perkembangan, gores bagian luar, kemudian bagian dalam sisi telapak kaki. Jika posisi kaki terkoreksi sendiri, akan diasumsikan sebagai sudut yang tepat terhadap kaki.
Maslalah berjalan yang paling umum terjadi pada anak kecil adalah pigeon toe, atau jari kaki yang mengarah ke dalam ,yang biasa terjadi akibat deformitas torsional.
    Observasi reflex plantar atau menggenggam dengan memberikan tekanan kuat tapi perlahan dengan ujung ibu jari pada bagian lateral telapak kaki bayi dari tumit sampai jari kelingking kemudian ke ibu jari kaki. Respon normal pada anak yang berjkalan adalah fleksi jari kaki. Tanda babinski, dorsofleksi ibu jari dan pengembanga jari yang lain seperti kipas, merupakan hal yang normal terjadi selama bayi tetapi abnormal setelah usia 1 tahun.

Sendi
 Evaluasi sendi untuk mengetahui rentang geraknya. Palpasi sendi apakah ada rasa panas, nyeri tekan, dan pembengkakan. Tanda-tanda ini selalu kemerahan pada sendi, memerlukan penyelidikan lebih lanjut.

Otot
Perhatikan kesimetrisan dan kualitas perkembangan otot, tonus dan kekuatan otot. Observasi perkembangan dengan cara melihat bentuk dan kontur tubuh baik dalam kondisi relaksasi maupun kondisi tegang. Perkirakan tonus dengan menggenggam otot dan merasakan kekuatannya ketika otot relaksasi dan kontraksi. Lokasinya yang umum di otot bisep lengan. Perkirakan kekuatan dengan cara meminta anak menggunakan eksremitas untuk mendorong atau menarik suatu tahanan.
- cara membuat pola rok rempel
PENGKAJIAN NEUROLOGIS
Fungsi Serebral
Uji keseimbangan dengan berdiri pada satu kaki dan berjalan berjingkat mengkaji keseimbangan. Uji koordinasi dengan meminta anak untuk meraih suatu mainan, kancing baju, tali sepatu, atau menggambar garis lurus pada selembar kertas, menjelaskan bahwa anak sudah cukup besar untuk melakukan aktifitas sendiri.

Reflex
Pemeriksaan reflex dilakukan dengan menggunakan palu reflex berkepala karet, bagian datar jari, atau samping tangan.
Reflex tendon dalam merupakan reflex peregangan dari suatu otot. Reflex tendon dalam yang paling umum adalah hentakan lutut atau reflex patella (reflex quadrisep).

Saraf Kranial
Pada anak yang masih kecil lakukan pemeriksaan dengan permainan untuk mendorong rasa percaya dan keamanan pada awal pemeriksaan. Atau lakukan juga pemeriksaan saraf cranial ketika setiap “system” diperiksa, seperti pergerakan dan kekuatan lidah, reflex muntah, menelan, posisi cardinal pandangan, dan posisi uvula selama pemeriksaan mulut.



PENGKAJIAN PERKEMBANGAN
Prosedur skrining dirancang untuk mengidentifikasi secara tepat dan dapat diandalkan anak yang tingkat perkembangannya dibawah normal untuk usia mereka dan memerlukan penyelidikan lebih lanjut.



Dengan adanya informasi yang kami sajikan tentang  pola rok lingkaran penuh

, harapan kami semoga anda dapat terbantu dan menjadi sebuah rujukan anda. Atau juga anda bisa melihat referensi lain kami juga yang lain dimana tidak kalah bagusnya tentang SULAMAN ( SULAMAN PUTIH ) 

. Sekian dan kami ucapkan terima kasih atas kunjungannya.

buka mesin jahit : https://olhachayo.files.wordpress.com/2014/11/tugas-anak-lengkap.doc

Comments