Kekerdilan yang bermakna

Kekerdilan yang bermakna

Ketakutan memberi arti lain pada suasana jiwa. Menawarkan pilihan yang dilematis. Memilih dalam cengkraman rasa seperti ini bukanlah sesuatu yang mudah. Dilema inilah yang dialami Abdullah, wiraswasta dan kontraktor yang tinggal di Perumahan Ajun, Aceh Besar. Ketika gelombang Tsunami menghantam, ia tengah bersama orang-orang yang dicintainya, istri dan lima anaknya. Anaknya yang masih kecil berusaha dinaikkan ke atas kap mobil, menyusul yang lainnya. Namun malang bagi Kiki, ketika sang ayah berusaha menariknya ke atas mobil, sebatang kayu yang hanyut terbawa arus menghempas dan menjepitnya. Kiki meronta menahan sakit di antara pintu mobil dan kayu.
Melihat kedaan anaknya, nuraninya sebagai seorang ayah tersentak di tengah kepanikan dan derasnya gelombang yang mengamuk. Namun apa daya, genggamannya pada Kiki tiba-tiba terlepas. Sementara kakaknya masih terpegang oleh Abdullah. Kiki terdengar menjerit, "Ayah, kenapa saya dilepas?" Perihnya terasa dalam di lubuk hati sang ayah. Ia berupaya keras menarik Kiki, namun tiba-tiba air bah yang lebih kuat menghantamnya, memaksanya bercerai-berai dengan semua anaknya. Pusaran air menyeret, menenggelamkan mereka satu-per satu. Di benak Abdullah hanya terlintas kecemasan, apakah istri dan semua anaknya tidak mampu bertahan.
Semuanya hilang bersama derasnya air bercampur lumpur. Begitu tersadar, perasaan Abdullah terus berkecamuk. Sedih dan marah menjadi satu. "Saya serasa mau bunuh diri, karena tidak ada harapan, semuanya hilang." Namun begitulah Allah yang punya sifat Rahman atas hamba-Nya. "Kalau saya bunuh diri siapa yang akan mendo'akan mereka," kesadaran ini menguatkan Abdullah. Hingga akhirnya ia berhasil meraih sepotong kayu sepanjang empat meter. Berpegangan di kayu, ia terhantam air yang tiba-tiba menderas lagi. Badannya terseret hingga ke pagar mesjid, yang jaraknya sekitar 300 meter dari rumahnya. Ia hanya bisa pasrah.
Tidak lama di pagar, karena beban yang menekan terlalu banyak, pagar ini pun jebol. Kayu yang menahan tubuh Abdullah ikut roboh dan terhempas bersamaan dengan tubuhnya. "Saya mencoba melongokkan kepala, yang teringat hanya istri dan anak saya." Perasaan ingin mati pun menyeruak kembali. Jika anak dan istrinya sudah tewas, untuk apa lagi ia hidup. "Tapi, lagi-lagi terpikir, siapa lagi yang akan mendo'akan mereka, agar amal mereka diterima dan dosa-dosanya terampuni. Dengan itu semangat hidup saya kembali lagi," ujar Abdullah terbata-bata. Dengan sisa tenaga yang ada, dikumpulkannya kayu kecil yang berserakan di kiri-kanannya, dijadikan pelampung. Hingga setelah beberapa jauh, ia pindah ke sebuah kusen besar dan kuat yang terombang-ambing.
Sejurus kemudian, tiba-tiba seorang ibu menjerit di dekatnya, "Nak, tolong Nak, bagi kayunya satu, kami akan tenggelam," sambil berenang ibu ini berusaha menangkap kaki Abdullah. Perempuan yang lain juga meraih kakinya. Karena tidak tega, kayu yang sebenarnya menjadi harapannya ia berikan pada mereka. Dengan tenaga yang ada Abdullah berusaha menepi dan meraih tembok. Di luar dugaannya, ia bisa memanjat tembok itu. Ia sedikit merasa lega. Namun setelah dilihat dari atas ternyata yang memegangnya tadi bukan hanya dua orang. Mereka berlima. Di kanan kiri sudah tidak ada lagi kayu. Ketika itu, sekali lagi Allah memperlihatkan kuasa-Nya. Secara tidak sengaja selang air lima meter terjulur mengambang dari sebuah rumah. Dengan selang air ini Abdullah menolong ketiga orang itu, seorang bapak bersama tiga anak gadisnya.
Setelah air berangsur surut, Abdullah turun dari tembok. Meski air masih sebatas badan, ia bergerak berusaha mencari mobil, dengan harapan bisa mencari istri, anak dan tetangganya. Paling tidak kalau pun mereka semuanya sudah meninggal, ia berharap bisa menemukan jasad mereka. Sambil berjalan, air matanya tek henti jatuh. "Mengapa saya bisa menyelamatkan orang lain, tapi tak bisa menyelamatkan keluarga," pikiran ini mengganggunya. "Saya marah pada diri saya, sama Tuhan. Ya Allah, maafkan saya."
Abdullah terus berjalan. Mobil sedan yang ditumpangi keluarga dan tetangganya ternyata sudah tidak ada. Yang ditemuinya justru seseorang yang juga sedang mencari keluarganya. "Saya habis Pak, keluarga saya lima orang meninggal di dalam mobil," katanya menangis pada Abdullah. Mendengar ini, pikirannya kembali menerawang. Terbayang wajah istrinya yang begitu panik ketakutan. Wajah kecil anaknya yang menangis minta jangan dilepas. Kiki yang terjepit meronta untuk diselamatkan.
Setelah berputar-putar selama satu jam, Abdullah menemukan mobilnya yang terlempar sampai beranda mesjid. Ketika ia membuka pintunya, matanya mesti menyaksikan pemandangan memilukan, istri dan anaknya berpelukan, kaku tanpa nyawa. Abdullah menarik dan meletakkan orang-orang yang dicintainya ini di atas rakit seadanya, yang dibuatnya dari drum. Jenazah-jenazah ini dibawanya ke mesjid.
Melihat mayat yang kebanyakan anak-anak, pikirannya menerawang kembali pada wajah polos anaknya. Sambil ikut mengevakuasi mayat-mayat ke mesjid, ia terus mencari dua anaknya yang hilang. Ia kembali ke jalan-jalan, mencari di antara tumpukan jasad.
Kakinya letih, seletih hatinya yang menangis tanpa suara. Ia terus mencari, semua sudut jalan dan gang tidak terlewatkan. Jika pun anaknya sudah tewas, ia ingin menyatukannya dengan jasad istrinya. Di tengah kegalauan, wajah istri dan anaknya yang sudah kaku memaksanya kembali ke mesjid. Barang kali orang lain sudah menemukan anaknya. Sesampai di mesjid, mayat-mayat makin banyak menumpuk, bahkan mayat istri dan anaknya yang ia tinggalkan tidak ia temukan. Yang ada hanya kabar terakhir, istri dan anaknya beserta mayat-mayat yang lain sudah di bawa ke Lambaro, Namun begitu dicari dan ditanyakan, semuanya menjawab, "Tidak ada. Semuanya akan dikuburkan di kuburan massal."
Sambil terus berharap, Abdullah bersama penduduk tidur di mesjid, ditemani mayat-mayat yang terus bertambah hingga beberapa hari. Hingga akhirnya ia ingat, lantai atas rumahnya tidak terkena banjir. Hari itu juga ia putuskan untuk kembali ke rumah. Ketika naik, kakinya tertahan. Dilihatnya halaman yang berubah menjadi bubur lumpur bercampur onggokan sampah. Di halaman itulah terlukis beribu kisah tentang anak dan istri tercintanya. "Saya hanya bisa menangis menelan ludah membasahi kerongkongan," lirih Abdullah.
Ia naik ke atas. Gagang pintu serasa ringan dan kosong saat dibuka. Di dalam rumah tak urung hatinya meratap. Semuanya sepi, hanya tampak baju anak-anaknya yang masih tergantung rapi di sisi pintu. "Saya tak tahan, saya seperti orang gila, keluar masuk kamar sambil berpura-pura cerita kepada istri saya," kenangnya. Begitu juga saat melongok lewat jendela, anak-anaknya seolah-olah berhamburan, lari minta digendong. "Wajah mereka terbayang terus, mata saya tak bisa dipejamkan, apalagi gempa datang terus,"  ujarnya.
Malam pertama di rumah bisunya diisi dengan sholat tahajud dan dzikir. Berharap mukjizat, berharap anaknya bisa ditemukan esok atau lusa. Mengembalikan semuanya kepada Allah, hanya itu bisa dilakukan sebagai penawar hati. Ketakutan yang menderanya saat dihempas gelombang, membuka hati Abdullah tentang kekerdilan seorang manusia. Sia-sialah manusia jika bersombong diri. Segala kesuksesan sebagai pengusaha ternyata menjadi tidak bernilai apa-apa. Kesadaran amat tinggi berdiam hatinya, mengakui kekerdilan di hadapan Allah yang maha Segalanya. "Saya betul-betul sadar sekarang, tak perlu ada yang disombongkan. Ketika segalanya telah ditakdirkan maka tak ada yang bisa mengelak. Kapan saja, di mana saja. Kita tak ada artinya sama sekali, jangan sampai lagi kita bersombong diri."
Manusia hanya mampu mengulang perkataan saat musibah menimpa, "(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji'uun (sesungguhnya dari Allah kita datang, kepada-Nyalah kita kembali)" (QS. Al Baqarah : 156). Kata-kata itu sesungguhnya adalah obat. Penawar bagi kegalauan jiwa yang kehilangan belahannya. Maka, kembalikanlah semuanya kepada Yang Memilikinya.
Majalah Tarbawi, Edisi 100 Th. 6/Dzulhijjah 1425 H/ 20 Januari 2005 M

Kalimat Romantis
Oleh Sus Woyo

Setelah berbulan-bulan tak ada kabar yang jelas. Setelah sekian waktu jadwal kepulangan saya ke tanah air belum bisa dipastikan, maka suatu malam saya dipanggil sang majikan untuk berbicara empat mata. Saat pertemuan itu ada kalimat terindah yang pernah saya dengar dari mulutnya. Kalimat itu adalah, "Akhir bulan ini kamu pulang ke Indonesia."
Saya terdiam. Tapi saya tidak bisa menyembunyikan rasa bahagia yang bergejolak di dada ini. Pulang! Sebuah kata yang sangat indah di telinga saya. Setelah dua tahun lebih saya meninggalkan orang-orang yang saya cintai: isteri, anak, keluarga yang lain, teman dan siapa saja orang-orang yang dekat dengan saya sebelum berangkat merantau ke negeri seberang.
Terlintas dalam pikiran saya, tentang masa lalu. Tentang sepenggal dari episode kehidupan saya pada masa duduk di sekolah menengah. Waktu di mana saya harus meninggalkan kampung halaman yang amat sangat saya cintai.
Selepas tamat sekolah dasar, orang tua saya mengirim saya untuk meneruskan pendidikan di kota. Karena kampung saya jauh dari kota, maka saya harus kost. Itu saya jalani dari SMP sampai tamat SMA. Dan saya selalu teringat saat yang paling indah, saat yang paling menyenangkan, yaitu saat datang hari Sabtu. Sebab di akhir pekan itu saya pulang kampung. Saking gembiranya kalau datang hari Sabtu, saya sering menyebutnya "Pulang ke pinggir sorga." Sebab akan bertemu dengan orang tua. Dan biasanya ibu saya sudah menyediakan makanan-makanan kesukaan saya. Yang tentunya sangat jarang saya temui di rumah kost.
Nah, saat mendengar kalimat dari majikan saya itu, hati saya sama persis seperti ketika mau pulang kampung di masa-masa menempuh pendidikan di kota saya, beberapa tahun yang lalu.
Sejak itu, hari-hari saya diliputi kegembiraan. Walaupun pekerjan yang saya tangani sebenarnya sangat banyak. Ocehan-ocehan dari majikan yang bersifat memarahipun tak begitu saya pedulikan. Artinya, apa yang ia omongkan hanya saya masukan telinga kanan dan saya keluarkan lewat telinga kiri. Bahkan terkadang, hati dan pikiran saya seolah sudah di kampung sendiri, padahal jasad saya masih bermandi keringat di negeri orang.
Suatu hari seorang teman menangkap perangai saya. Dan teman saya itu berkomentar. "Duh, gembiranya mau pulang kampung, ya...." Saya senyum-senyum saja mendengar itu. Memang itulah adanya.
Namun, di siang bolong yang terik mataharinya mencapai titik kulminasi, saat saya merebahkan badan untuk melepas lelah, tiba-tiba saya berpikir keras. Sambil melihat langit-langit kamar, saya bergumam sendiri. "Apakah kegembiraan ini bisa bertahan lama, atau setidaknya sampai ke Indonesia nanti?'
Saya tak bisa menjawab pertanyaan saya sendiri itu. Bahkan tiba-tiba pikiran saya melayang terlalu jauh ke depan. "Mampukah saya segembira ini jika nanti Allah juga memberikan kalimat itu kepada saya?"
Ya, setelah merantau, pasti saya akan pulang. Sama juga setelah saya diberi kesempatan hidup di dunia, pasti juga akan dipanggil pulang. Dan kepulangan yang terahir ini jelas tidak mungkin bisa ditawar-tawar lagi. Cepat atau lambat, Allah akan menyapa juga dengan kalimat yang tak beda jauh dengan kalimat majikan saya, walau dengan nuansa yang berbeda, tentunya.
Kalau pertemuan saya dengan semua keluarga nanti di tanah air mampu memberikan kegembiraan yang luar biasa pada saya, mampukah saya juga berperasaan yang sama tatkala saya nanti akan berjumpa dengan Sang Pencipta?
Saya tertunduk lama. Lama sekali. Bahkan tak terasa air mata ini memberontak ingin keluar. Seolah memerintahkan saya untuk cepat-cepat berintrospeksi diri, tentang apa yang telah saya perbuat di "rantau" ini.
Bekal saya belum seberapa. Entah dalam tingkatan yang mana derajat keimanan saya. Komitmen saya terhadap aturanNya belum bisa saya jadikan barometer untuk menjadikan saya tersenyum di hadapanNya. Apalagi merasa gembira.
Namun, walaupun demikian, mudah-mudahan kepulangan saya ke tanah air tercinta akan menjadi pelajaran besar untuk menyongsong kepulangan saya yang sebenarnya, yaitu pulang ke pangkuanNya. Sehingga ketika kalimat terindah dari Allah, yang dibawa malaikat penyabut nyawa,datang menyapa saya, mudah-mudahan saya bisa menyambutnya dengan senyum kegembiraan. Seperti senyumnya para kekasih Allah ketika dipanggil pulang menuju kampung abadi, kampung akhirat.


Duhai Istriku, Aku bangga kepadamu…
“Zakat penghasilan bulan ini sudah dikeluarkan, bang. Pasti belum dikeluarkan sama Abang kan?” Sebuah pesan pendek masuk ke telepon selular saya pagi ini. Biasa, isteri yang senantiasa mengingatkan urusan zakat penghasilan. Sejak menikah, saya yang tak pernah menutup-nutupi jumlah penghasilan sempat dibuat jengkel gara-gara isteri kerap menanyakan adakah penghasilan lain selain yang didapat setiap akhir bulan. Awalnya saya menganggap dia tak percaya dan curiga saya tak memberitahu penghasilan saya yang lain, padahal penghasilan saya memang cuma segitu-gitunya.
Setelah ia jelaskan maksudnya, barulah diri ini tersenyum sekaligus malu. Ia teramat perhatian untuk mengeluarkan zakat yang duasetengah persen dari setiap penghasilan yang kami terima, baik itu penghasilan bulanan maupun penghasilan dari hasil lainnya. Beruntunglah saya karena ada yang rajin mengingatkan.
“Diberikan ke siapa zakat kita dik,” tanya saya sekembalinya dari mengantar anak saya ke sekolah. “Baru separuhnya ke tukang sampah langganan, separuhnya lagi terserah Abang besok deh mau diberikan kemana,” jelasnya.
Cerita pun mengalir, tukang sampah langganan yang setiap 2 x sepekan mengangkut sampah di lingkungan tempat kami tinggal usai mengangkut sampah dari depan rumah. Isteri saya pun memanggilnya dan menawarkan dua buah sepeda bekas anak-anak saya yang mereka sudah enggan memakainya karena sudah ada yang baru. Tentu saja ia tak menampik tawaran isteri saya dan diangkutlah dua sepeda kecil itu. “Dijual harganya nggak seberapa, lebih baik diberikan kepada yang membutuhkan. Semoga lebih ada nilainya,” timbang isteri saya.

Belum beranjak tukang sampah itu dari rumah, isteri saya pun teringat bahwa kami belum mengeluarkan zakat penghasilan bulan ini. Maka ia pun memberikan sebagian dari yang seharusnya kami keluarkan kepada tukang sampah itu. Haru dan nyaris tak sanggup membendung bulir air yang siap tumpah dari pelupuk mata ketika isteri saya mendengar ungkapannya saat menerima uang buat sebagian orang itu tak seberapa nilainya, “Alhamdulillah, makan anak dan isteri dua jumat ke depan terjamin nih bu, terima kasih.”
Tak hanya isteri, saya yang tak mendengar langsung dari mulutnya pun merasakan getaran yang mengharukan. Betapa kecilnya uang yang kami berikan bisa membuat ia merasa ada jaminan makan selama dua jumat ke depan, lalu bagaimana dengan hari-hari sebelumnya ? Dan bagaimana dengan pekan-pekan yang akan dating ?
“Jum’at yang berkah buat saya, semoga hari ini keberkahan juga tercurahkan atas ibu sekeluarga,” tak lupa ia meninggalkan doa untuk keluarga kami. Lega lah sudah, sebagian rezeki yang Allah titipkan sudah diberikan kepada yang berhak. Diam-diam isteri saya mengamini doa bapak tukang sampah, agar Sang Pemberi rezeki pun memberkahi setiap pemasukan dan pengeluaran kami. **
Sore harinya saya pergi ke Anjungan Tunai Mandiri (ATM) untuk mengambil sedikit dari tabungan kami guna keperluan belanja. Maha Suci Allah, puji syukur saya yang tiada bandingannya, ketika melihat saldo tabungan saya bertambah hampir enam kali dari yang pagi tadi dikeluarkan isteri saya. Rupanya Jum’at hari ini tidak hanya berkah bagi bapak tukang sampah itu, tapi juga bagi kami. “Mungkinkah Allah menjawab doa tukang sampah itu untuk kami? Hanya Allah yang tahu”.
Ketika saya menceritakan perihal ini kepada isteri, tak cukup kalimat syukur yang keluar dari mulutnya, tapi saya sudah bisa menebak apa yang ada di kepalanya. Saya yakin ia tengah menghitung lagi dua setengah persen yang harus dikeluarkan. Aih…


CINTA NABI
Setiap pohon yang tidak berbuah, seperti pohon pinus dan pohon cemara, tumbuh tinggi dan lurus, mengangkat kepalanya ke atas, dan semua cabangnya mengarah ke atas. Sedangkan semua pohonnya yang berbuah menundukkan kepala mereka, dan cabang-cabang mereka mengembang ke samping.
Rasulullah adalah orang yang paling rendah hati, meskipun dia memiliki segala kebajikan dan keutamaan orang-orang dahulu kala dan orang-orang sekarang, dia seperti sebuah pohon yang berbuah. Menurut sebuah riwayat, beliau bersabda, “Aku diperintahkan untuk menunjukkan perhatian kepada semua manusia, untuk bersikap baik hati kepada mereka. Tidak ada Nabi yang sedemikian diperlakukan dengan sewenang-wenang oleh manusia selain aku.”
Kita tahu bahwa beliau dilukai kepalanya, ditanggalkan giginya, lututnya berdarah karena lemparan batu, tubuhnya dilumuri kotoran, rumahnya dilempari kotoran ternak. Beliau di hina, dan di siksa dengan keji.
Saat beliau berdakwah di Thaif, tak ada yang didapatkannya kecuali hinaan dan pengusiran yang keji. Ketika Rasulullah menyadari usaha dakwahnya itu tidak berhasil, beliau memutuskan untuk meninggalkan Thaif. Tetapi penduduk Thaif tidak membiarkan beliau keluar dengan aman, mereka terus mengganggunya dengan melempari batu dan kata-kata penuh ejekan. Lemparan batu yang mengenai Nabi demikian hebat, sehingga tubuh beliau berlumuran darah.
Dalam perjalanan pulang, Rasulullah Saw. menjumpai suatu tempat yang dirasa aman dari gangguan orang-orang jahat tersebut. Di sana beliau berdoa begitu mengharukan dan menyayat hati. Demikian sedihnya doa yang dipanjatkan Nabi, sehingga Allah mengutus malaikat Jibril untuk menemuinya. Setibanya di hadapan Nabi, Jibril memberi salam seraya berkata, “Allah mengetahui apa yang telah terjadi padamu dan orang-orang ini. Allah telah memerintahkan malaikat di gunung-gunung untuk menaati perintahmu.” Sambil berkata demikian, Jibril memperlihatkan para malaikat itu kepada Rasulullah Saw.
Kata malaikat itu, “Wahai Rasulullah, kami siap untuk menjalankan perintah tuan. Jika tuan mau, kami sanggup menjadikan gunung di sekitar kota itu berbenturan, sehingga penduduk yang ada di kedua belah gunung ini akan mati tertindih. Atau apa saja hukuman yang engkau inginkan, kami siap melaksanakannya.”
Mendengar tawaran malaikat, Rasulullah Saw. Dengan penuh kasih sayang berkata, “Walaupun mereka menolak ajaran Islam, saya berharap dengan kehendak Allah, keturunan mereka pada suatu saat nanti akan menyembah Allah dan beribadah kepada-Nya.”
Ketika Makkah berhasil ditaklukkan, beliau berkata kepada orang-orang yang pernah menyiksanya, “Bagaimanakah menurut kalian, apakah yang akan kulakukan terhadapmu?” Mereka menangis dan berkata, “Engkau adalah saudara yang mulia, putra saudara yang mulia.” Nabi Saw. bersabda, “Pergilah kalian! Kalian adalah orang-orang yang dibebaskan. Semoga Allah mengampuni kalian.” (HR. Thabari, Baihaqi, Ibnu Hibban, dan Syafi’i).
Abu Sufyan bin Harits, sepupu beliau, lari dengan membawa semua anak-anaknya karena pernah menyakiti Rasul Saw., maka Ali bin Abi Thalib Ra. bertanya kepadanya, “Hai Abu Sufyan, hendak pergi kemanakah kamu?” Ia menjawab, “Aku akan keluar ke padang sahara. Biarlah aku dan anak-anakku mati karena lapar, haus, dan tidak berpakaian.”
Ali bertanya, “Mengapa kamu lakukan itu?” Ia menjawab, “Jika Muhammad menangkapku, niscaya dia akan mencincangku dengan pedang menjadi potongan-potongan kecil.” Ali berkata, “Kembalilah kamu kepadanya dan ucapkan salam kepadanya dengan mengakui kenabiannya dan katakanlah kepadanya sebagaimana yang pernah dikatakan oleh saudara-saudara Yusuf kepada Yusuf, ….Demi Allah, sesungguhnya Allah telah melebihkan kamu atas kami dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa). (QS. Yusuf [12]: 91).
Abu Sufyan pun kembali kepada Nabi Saw. dan berdiri di dekat kepalanya, lalu mengucapkan salam kepada beliau seraya berkata, Wahai Rasulullah, demi Allah, sesungguhnya Allah telah melebihkan engkau atas kami dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa). (QS. Yusuf [12]: 91).
Rasulullah Saw. pun menengadahkan pandangannya, sedang air matanya membasahi pipinya yang indah hingga membasahi jenggotnya. Rasulullah menjawab dengan menyitir firman-Nya, …Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kamu. Mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu) dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang. (QS. Yusuf [12]: 92).
Imam Bukhari meriwayatkan hadits dari Abdullah bin Mas’ud bahwa Rasulullah Saw. bersabda kepadanya, “Bacakan al-Quran kepadaku.” Ibnu Mas’ud berkata, “Bagaimana aku membacakannya kepada Engkau, sementara al-Quran itu sendiri diturunkan kepada Engkau?”
“Aku ingin mendengarnya dari orang lain,” jawab beliau. Lalu Ibnu Mas’ud membaca surat an-Nisa hingga firman-Nya, Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti) apabila Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu). (QS. an-Nisâ [4]: 41). Begitu bacaan tiba pada ayat ini, beliau bersabda, “Cukup.”
Ibnu Mas’ud melihat ke arah beliau, dan terlihatlah olehnya bahwa beliau sedang menangis.
Dalam kisah ini kita memperoleh pelajaran berharga, bahwa Rasulullah Saw. sangat mencintai umat manusia. Beliau sangat mengharapkan agar orang-orang kafir itu beriman. Karena balasan kekafiran adalah neraka yang menyala-nyala. Rasulullah sendiri pernah melihat neraka. Dia melihat sungguh mengerikan neraka itu. Hingga ketika menyadari hal itu, mengalirlah airmatanya dengan deras.
Abu Dzar Ra. meriwayatkan dari Nabi Saw., bahwa beliau mendirikan shalat malam, sambil menangis dengan membaca satu ayat yang diulang-ulangi, yaitu, Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau juga. (QS. al-Maidah [5]: 118).
Dan diriwayatkan saat hari kiamat tiba, beliaulah orang yang pertama kali dibangkitkan. Yang diucapkannya pertama kali adalah, “Mana umatku? Mana umatku? Mana umatku?” Beliau ingin masuk surga bersama-sama umatnya. Beliau kucurkan syafaat kepada umatnya sebagai tanda kecintaan beliau terhadap mereka. Beliau juga sering berdoa, Allahumma salimna ummati. Ya Allah selamatkan umatku.
Keadaan diri Nabi Muhammad Saw. digambarkan Allah Swt. dalam firman-Nya, Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. (QS. at-Taubah [9]: 129).
Alangkah buruknya akhlak kita bila tak mencintai Nabi, sebagaimana Nabi mencintai kita, berkorban untuk kita, dan meneteskan airmatanya untuk kita. Di sini, apakah kita hanya berdiam diri saat Nabi dihina, seolah kita bukan lagi umatnya. Apakah kita rela Nabi berdakwah seorang diri dan kemudian dilempari batu hingga berdarah-darah, sementara umatnya yang begitu banyak hanya bisa berdiam diri? Tangisan sang Nabi hendaknya menjadi pengingat kita, untuk lebih mencintainya, membelanya, bahkan berkorban nyawa untuknya, sebagaimana ia telah berkorban nyawa untuk kita agar kita selamat dari siksa neraka.


Comments