, , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Mari kita cermati gambar pertama dan gambar ke dua.

les, indonesia, private, obras, guru, sekolah, belajar, yogyakarta, usaha, jogja, kursus, terbaik, batik, kaos, kebaya, jahit, baju jahit, mesin jahit, konveksi, kursus menjahit
Mari kita cermati gambar pertama dan gambar ke dua.

Mari kita cermati gambar pertama dan gambar ke dua.



Pada gambar pertama, adalah bahan yang dililitkan terhadap orang yang
bentuk punggungnya agak menonjol, akibatnya kelebihan bahan pada bagian
pinggang belakang lebih banyak, karena didorong oleh punggung, sehingga
lebar kupnat pada bagian pinggang belakang lebih besar dari orang atau
model dua yang punggungnya lebih rata. Selanjutnya, pada bagian pinggang
muka, gambar pertama, hanya sedikit ada kelonggaran bila dibandingkan
dengan gambar model dua. Ini disebabkan model pertama agak sedikit
bungkuk, sehingga bahan menjadi ketarik kebelakang. Sedangkan model dua
badannya tegak dan payudaranya normal, sehingga kelebihan bahan antara
bagian muka dengan belakang hampir seimbang. Pada pinggang bagian muka
pada model dua, kelebihan bahannya lebih banyak dari model satu, sehingga
pada gambar pola, kupnat bagian muka juga lebih lebar dari model satu.


Dari hasil percobaan di atas, diambil kesimpulan bahwa masing-masing bentuk
tubuh harus ditangani dengan cara yang berbeda, disesuaikan dengan bentuk
tubuh masing-masing model, tidak ada pola dasar yang lansung sesuai atau
cocok untuk semua bentuk tubuh.


Percobaan di atas adalah percobaan dengan menggunakan bahan tekstil atau
kain, berikut ini adalah percobaan dengan menggunakan gypsum yang
lansung ditempelkan pada tubuh model atau tubuh manusia. Sebelum
ditempelkan gypsum, tubuh model digasi melingkar dengan rata dan rapi,
tujuannya adalah agar garis tersebut nantinya lengket atau pindah pada
gypsum, sehingga pada saat di lepas dan diratakan, aka dapat di lihat seperti
apa perubahan garis tersebut apa bila diratakan. Percobaan dengan cara
menempelkan gypsum sama halnya dengan membuat cetakan tubuh manusia.
Setelah gypsum ditempelkan dan setelah mengeras, sehingga dapat dilepas
dari tubuh model, Kemudian cetakan tersebut dilepas dan diratakan pada
bidang datar atau di atas meja pola, sehingga cetakan tersebut menjadi rata,
terbelah dan terjadi ada rongga-rongga yang kosong yang membentuk seperti
kupnat. Untuk lebih jelasnya ada beberapa gambar yang dapat dilihat berikut
ini

Dari percobaan yang menggunakan bahan gypsum ini, ditemukan hal yang
sama seperti percobaan yang dilakukan dengan menggunakan bahan
tekstil atau kain. Hal yang sama yang dimaksudkan disini adalah, apabila
dilakukan percobaan dengan cara menggunakan gypsum kepada dua
orang yang berbeda, maka setelah masing-masing dari hasil percobaan
tersebut diratakan pada bidang datar, sehingga menjadi lembaran, retakan
atau rongga-rongga kosong yang terjadi tidak sama antara model satu
dengan model lainnya. Ini artinya, bahwa masing-masing orang
mempunyai bentuk tubuh tersendiri. Tidak ada bentuk tubuh orang yang
sama walaupun mereka kembar. Walaupun demikian tentu ada
persamaan-persamaan yang mendasar, seperti sama-sama mempunyai
bahu, sama-sama mempunyai lengan, mempunyai payudara, punggung,
pinggang dan lain-lain. Walaupun setiap tubuh manusia mempunyai
banyak persamaan, tetapi tidak ada yang persis sama walaupun dilahirkan
kembar.


Oleh sebab itu apabila membuat pola dasar busana secara konstruksi yaitu
membuat pola dasar dengan menggunakan ukuran tubuh model, akan
ditemukan beberapa kelemahan atau ketidak cocokan. Tidak ada sistem
pembuatan pola dasar yang lansung sesuai atau cocok dengan bentuk
tubuh seseorang, pasti ada garis-garis pola yang perlu disempurnakan,
diperbaiki dan kalau perlu direkayasa atau diakali dengan cara yang tidak
lazim, maksudnya pola dasar yang sudah dibuat, di rubah dengan cara
tidak lagi mengikuti aturan atau ketentuan dalam pembuatan pola dasar.
Hal ini terjadi untuk menyesuaikan pola tersebut dengan bentuk tubuh
seseorang, yang kemungkinan memang perlu penanganan khusus

misalnya seperti ada tubu bagian kiri dengan kanan tidak sama, atau ada
model yang mempunyai tonjolan tulang atau daging pada bagian sisi atau
bagian punggung, dan lain-lain. Tentu banyak lagi kegiatan percobaan dan
penelitian yang sudah dilakukan, sehingga menghasilkan suatu teori dan
teknik untuk membuat pola busana. Untuk tingkatan sekolah menengah
tentu pembelajaran tidak sampai kepada melakukan percobaan apalagi
penelitian. Untuk tingkatan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), cukup
sekedar pengetahuan saja. Tingkatan SMK cukup mempelajari bagaimana
cara menggunakan dan memanfaatkan serta mengembangkan apa yang
sudah dihasilkan dan diciptakan oleh para ahli-ahli di bidang pola busana.
Dengan melakukan percobaan dan dengan mengkaji hasil percobaan, para
ahli dibidang Pola merumuskan dan menciptakan teknik atau cara untuk
membuat gambar pola dasar busana dengan cara menggunakan ukuran
yang diambil dari tubuh model. Masing-masing ahli mempunyai cara dan
teknik tersendiri dalam membuat dan menggambar pola dasar busana.


Berikut ini adalah salah satu dari cara atau teknik menggambar pola dasar
yang dibuat atau disusun oleh “Bunka Fashion College” yaitu suatu
perguruan tinggi terkenal di Tokyo-Jepang yang khusus mengembangkan
pendidikan didunia Fashion. Tentunya masih banyak lagi perguruan tinggi
di negara lain yang berkecimpung didunia fashion, sebagaimana yang
sudah disampaikan sebelumnya. Ada beberapa Negara yang sudah
menemukan dan menciptakan cara atau teknik pembuatan pola dasar,
tetapi tujuan menampilkan teknik menggambar pola hanya sekedar contoh
saja, jadi kita tidak perlu membahasnya lebih dalam dan tidak perlu
menampilkan banyak contoh, agar tidak membingungkan pada saat
mempelajarinya lebih lanjut. Berikut ini adalah salah satu contoh dari Pola
Dasar yang dikeluarkan atau dihasilkan oleh salah satu perguruan tinggi di
Jepang yaitu “ Bunka Fashion College”

0 komentar:

Post a Comment